RADARTUBAN - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPRPRKP) Tuban memastikan bahwa puluhan pohon penghijauan berusia tua di Jalan Diponegoro yang ditebang menyusul proyek revitalisasi drainase bakal diganti dengan pohon baru.
Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPRPRKP Tuban Aizah Tis Inawati mengatakan, penanaman ulang atau penggantian pohon baru menjadi tanggung jawab rekanan yang mengerjakan proyek tersebut.
‘’(Penanaman ulang pohon penghijauan, red) sudah satu paket di kontrak kerja,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Pohon Tua Jadi Tumbal Revitalisasi Drainase, Tuban Kehilangan Fungsi Resapan
Disampaikan Aiz—sapaan akrabnya, pohon yang wajib ditanam sesuai dengan jumlah pohon yang ditebang.
Baik yang berukuran besar, sedang, maupun kecil. Baik yang berusia puluhan tahun maupun yang baru beberapa tahun ditanam. Tidak boleh kurang. ‘’Jadi, sudah menjadi tanggung jawab rekanan untuk menanam ulang (mengganti pohon-pohon yang ditebang, red),’’ jelasnya.
Hanya saja, terang dia, jenis pohon yang akan ditanam berbeda dari pohon sebelumnya. Semua pohon yang telah ditebang akan diganti dengan jenis pohon yang seragam: tabebuya.
Karena itu, dipastikan tidak ada regenerasi pohon sono atau angsana yang selama ini menjadi filter alami polusi udara di wilayah perkotaan.
Kenapa pohon tabebuya yang dipilih, padahal pohon dengan nama latin Tabebuia ini merupakan jenis pohon hias, yang fungsi ekologisnya tidak sebaik angsana? Aiz menjelaskan, dipilihnya pohon tabebuya ini karena jenis akarnya yang tidak merusak.
‘’Kenapa dipilih pohon tabebuya, karena akarnya akar tunggang. Beda dengan pohon angsana yang akarnya melebar (dapat merusakan trotoar, red),’’ jelasnya.
Namun, secara spesifik dan kelebihan pohon-pohon yang dimaksud, pejabat yang mengenakan kaca mata ini mengaku kurang memahami secara detail.
Yang jelas, terang dia, akar pohon angsana termasuk jenis akar yang merusak. Itulah sebabnya, puluhan pohon angsana berusia puluhan tahun di sepanjang Jalan Diponegoro itu terpaksa ditebang menyusul proyek revitalisasi drainase.
‘’Sebenarnya ya eman (ditebang, red), tapi kondisi akarnya sudah banyak merusak (trotoar, red),’’ ungkapnya sekaligus menegaskan bahwa penebangan pohon sulit dihindari. ‘’Kayak gini mau hindari gimana,’’ katanya sembari mengirim foto ketika puluhan pohon angsana masih berdiri tegak di sepanjang Jalan Diponegoro sisi barat.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, baru-baru ini, puluhan pohon penghijauan di sepanjang Jalan Diponegoro kembali menjadi “tumbal” proyek revitalisasi drainase.
Baca Juga: Pemkab Tuban Habiskan Rp 9 Miliar untuk Revitalisasi Drainase, Mampukah Atasi Genangan Saat Hujan?
Karena posisinya dianggap mengganggu dan menghalangi proyek, pohon-pohon angsana berusia puluhan tahun itu langsung ditebang.
Dijugil menggunakan alat berat hingga ke akar-akarnya. Dipotong-potong, lalu dikandangkan.
Jauh sebelum proyek senilai Rp 5,6 miliar itu menyasar drainase di Jalan Diponegoro di sisi barat. Di titik yang sama, tahun lalu, proyek drainase di sisi timur, juga menyebabkan puluhan pohon penghijauan di tebang.
Di titik lain, pohon-pohon besar di beberapa titik drainase yang direvitalisasi, juga bernasib sama: ditebang—dibersihkan hingga ke akar-akarnya.
Lantaran pohon tidak anggap sebagai aset dan dihitung menjadi bagian dari kota itu sendiri, sehingga keberadaannya selalu dianggap sebagai penghalang proyek. Untuk itu, satu-satunya cara menghilangkan penghalang adalah ditebang.(tok)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban