RADARTUBAN – Ritus Sembahyang King Ho Ping di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio Tuban berlangsung khidmat sekaligus semarak, Kamis (3/9).
Peringatan yang digelar untuk mendoakan arwah leluhur tersebut langsung menyedot perhatian publik begitu memasuki tradisi rebutan tumbeng yang telah diberkati.
Sejak pagi, ratusan warga dari berbagai penjuru Tuban berjubel memadati area pelataran klenteng.
Mereka rela mengular dalam antrean panjang demi mendapatkan satu dari ratusan nasi tumpeng yang telah diberkati lewat panjatan doa para umat.
Baca Juga: Kawasan Kelenteng Mulai Padat, Begini Rangkaian Perayaan HUT Dewa Kongco TITD Kwan Sing Bio Tuban
Panitia Sembahyang King Ho Ping TITD Kwan Sing Bio Tuban Tio Eng Bo memaparkan, bahwa tradisi yang juga dikenal dengan Rebutan ini memuat pesan kepedulian spiritual yang mendalam.
"Makna dari sembahyang ini untuk arwah yang tidak disembahyangkan di rumah, kami haturkan doa di sini. Kami beri persembahan dan makanan, kemudian juga sebagai simbol doa, harapan, sekaligus kepedulian," ujar Eng Bo.
Eng Bo menjelaskan, perayaan King Ho Ping berlangsung sepanjang bulan ketujuh penanggalan Imlek, yang tahun ini jatuh mulai 27 Agustus hingga satu bulan ke depan.
"Pelaksanaa sembahyang King Ho Ping di Kwan Sing Bio jatuh pada hari ini. Sementara di Klenteng Tjoe Ling Kiong Tuban sudah mendahului pada 30 Agustus lalu," lanjutnya.
Rangkaian acara diawali dengan ibadah doa bersama umat tepat pukul 11.00 WIB. Usai prosesi sakral tersebut selesai, panitia langsung membagikan ratusan porsi makanan kepada warga yang telah menanti.
"Hari ini ada 750 tumpeng yang kami bagikan kepada masyarakat," tambah Eng Bo.
Daya pikat tradisi leluhur ini tak hanya dirasakan masyarakat lokal. April, salah seorang umat Klenteng Hok Swie Bio asal Bojonegoro bahkan sengaja memboyong rombongan melintasi batas kota demi mengikuti peribadatan di Tuban.
"Sembahyang King Ho Ping ini adalah muara rasa syukur kita kepada Tuhan, sekaligus bentuk bakti dan hormat kepada para leluhur," tutur wanita 40 tahun tersebut. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban