RADARTUBAN - Dampak musim kemarau di kabupaten tuban terus meluas. Menyusutnya debit air di beberapa wilayah membuat tak kurang dari 3.126 Kepala Keluarga (KK) berada dalam kondisi keterbatasan air.
Kondisi keterbatasan air ini melanda delapan dari 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Tuban. Dari jumlah tersebut, terdapat setidaknya 15 desa yang mengalami krisis air bersih.
Berdasarkan data hingga 31 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, sebanyak 294 ribu liter air bersih didistribusikan ke belasan desa yang merasakan dampak kekeringan.
“Distribusi air bersih menjadi salah satu langkah cepat Pemkab Tuban untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, khususnya di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air selama musim kemarau,” ujar Kepala BPBD Tuban Sudarmaji, Selasa (1/9).
Baca Juga: Antisipasi Kemarau Panjang, Anggaran BBM Dropping Air BPBD Tuban Diusulkan Naik Jadi Rp 170 Juta
Pemetaan Distribusi Air Bersih di 8 Kecamatan
Dari pemetaan BPBD di lapangan, Kecamatan Grabagan menjadi kawasan yang mengalami keterbatasan air paling banyak, sehingga memerlukan setidaknya 96 ribu liter air melalui 18 rit pengiriman.
Kemudian disusul Kecamatan Parengan menerima pasokan 72 ribu liter air melalui 12 rit pengiriman, Kecamatan Senori mendapatkan 34 ribu liter air melalui 6 rit pengiriman.
Selanjutnya, Kecamatan Jatirogo sebanyak 34 ribu liter melalui 6 rit pengiriman, Kecamatan Bancar 14 ribu liter air melalui 2 rit, Kecamatan Semanding 30 ribu liter air melalui 6 rit, dan Kecamatan Montong 14 ribu liter melalui 2 rit pengiriman.
“Distribusi air bersih ini dilakukan di beberapa wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air pada musim kemarau,” imbuh Darmaji.
Bukan hanya itu, BPDB turut melakukan dropping air bersih untuk 320 KK di Desa Bangilan guna memenuhi kebutuhan air bersih disana.
Penanganan Krisis Air
Dalam menyalurkan bantuan air, BPBD Tuban menjalankan mekanisme penanggulangan secara bertahap. Prosedur tersebut mencakup menerima laporan warga, melakukan pendataan dan verifikasi, proses dropping, hingga melakukan monitoring dan evaluasi.
“Penentuan skala prioritas dilakukan berdasarkan jumlah KK yang terdampak dan juga luasan wilayah, ini dilakukan agar distribusi tepat sasaran serta menyesuaikan kebutuhan masyarakat di daerah terdampak,” terangnya.
Bukan hanya itu, pihak BPBD turut melakukan koordinasi lintas sektor untuk menangani persoalan tahunan tiap kali musim kemarau melanda.
Musim Kering Diprediksi Bertahan Hingga Desember
Diperkirakan, musim kemarau di Bumi Ronggolawe berlangsung hingga pertengahan Desember. Kondisi kekeringan ini berpotensi memperluas wilayah yang membutuhkan distribusi air lantaran mengalami keterbatasan.
“BPBD Tuban mengerahkan armada tangki berkapasitas tujuh ribu liter dan lima ribu liter, sehingga tiap harinya sebanyak enam unit armada dikerahkan untuk melakukan distribusi air bersih ke wilayah yang membutuhkan,” tutur Darmaji.
Penanganan dampak kekeringan ini turut dilakukan dengan sinergi berbagai pihak agar pelayanan kepada masyarakat dalam terkoordinir dengan baik.
“Kami telah menyusun jadwal dropping air dengan melibatkan berbagai stakeholder yang ada,” tandasnya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban