Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pasar Kripto Bergejolak: Bitcoin, Ethereum, dan Pi Network Mengalami Tekanan Jual

Siti Rohmah • Kamis, 19 Juni 2025 | 01:38 WIB
Ilustrasi bitcoin.
Ilustrasi bitcoin.

RADARTUBAN  — Pasar aset digital kembali dilanda volatilitas tajam.

Sejumlah mata uang kripto utama seperti Bitcoin, Ethereum, dan Pi Network mengalami penurunan harga yang signifikan dalam kurun 24 jam terakhir, memunculkan kekhawatiran akan tren pelemahan yang lebih luas.

Gejolak ini dipicu oleh berbagai faktor global yang mendorong aksi jual besar-besaran di sejumlah bursa kripto.

Tekanan datang dari kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral, penguatan regulasi.

Serta aksi ambil untung dari para investor ritel.

Kombinasi elemen-elemen ini memperburuk sentimen pasar dan menambah ketidakpastian bagi pelaku investasi.

Ketegangan Timur Tengah Picu Ketidakstabilan Pasar

Bitcoin (BTC) mencatat penurunan dari puncak mingguannya di angka US$108.915 ke US$105.500 hanya dalam waktu satu hari.

Ethereum (ETH) juga melemah lebih dari 2,2 persen, sementara kapitalisasi pasar keseluruhan mata uang kripto turun ke US$3,28 triliun.

Pelemahan ini sejalan dengan penurunan pasar saham global, di mana indeks Dow Jones dan Nasdaq 100 masing-masing mencatat penurunan sebesar 165 dan 100 poin.

Kekhawatiran geopolitik meningkat menyusul pernyataan Donald Trump yang menyerukan evakuasi warga Tehran, menandakan potensi eskalasi militer.

Sementara itu, insiden tabrakan dua kapal tanker yang memicu kebakaran di dekat Selat Hormuz turut memperburuk situasi.

Mengingat selat tersebut merupakan jalur vital distribusi jutaan barel minyak setiap harinya, gangguan ini menaikkan harga energi dan biaya logistik global.

Mengutip Crypto.news, harga minyak mentah dan tarif pengiriman global melonjak dalam beberapa hari terakhir.

Indeks Kontainer Dunia tercatat naik menjadi US$3.543—angka tertinggi sejak Januari.

Lonjakan biaya energi dan pengangkutan ini mendorong inflasi lebih tinggi, memperkecil peluang Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga seperti yang didorong oleh mantan Presiden Trump.

Secara historis, mata uang kripto cenderung mencatat kinerja positif ketika The Fed menurunkan suku bunga atau mengindikasikan pelonggaran kebijakan moneter.

Namun, tekanan inflasi yang membayangi membuat kebijakan tersebut semakin sulit direalisasikan dalam waktu dekat.

Bitcoin dan Narasi Aset Aman

Meski mengalami koreksi harga, Bitcoin (BTC) dan aset kripto lainnya memiliki riwayat pemulihan yang kuat setelah gejolak makroekonomi atau geopolitik.

Pada Maret 2020, misalnya, BTC sempat anjlok dari US$10.000 ke bawah US$4.000 menyusul pengumuman pandemi COVID-19, namun kemudian melonjak tajam dan mencetak rekor baru dalam beberapa bulan berikutnya.

Data dari BlackRock memperlihatkan bahwa performa Bitcoin pasca-krisis kerap mengungguli indeks saham.

Hal ini memperkuat posisi Bitcoin sebagai "safe haven" bagi sebagian investor, meskipun volatilitas jangka pendek tetap menjadi risiko yang harus diperhitungkan.

Pantau terus perkembangan terbaru di dunia kripto dan blockchain melalui kanal resmi kami di Google News untuk informasi mendalam dan terpercaya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bitcoin #Dow Jones #kripto #ethereum #Nasdaq