Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Takut Pensiun? Mulailah Investasi Sejak Dini untuk Generasi Muda Agar Tak Jadi Generasi Sandwich

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Selasa, 28 Oktober 2025 | 12:05 WIB
Ilustrasi pasangan lansia yang hidup tenang dan bahagia.
Ilustrasi pasangan lansia yang hidup tenang dan bahagia.

RADARTUBAN — Pensiun merupakan fase alami dalam kehidupan setiap pekerja.

Namun, bagi sebagian orang, masa ini justru menjadi sumber kecemasan karena kurangnya perencanaan matang, baik secara finansial maupun mental.

Agar dapat menikmati masa tua yang tenang dan bermartabat, persiapan pensiun harus dimulai sejak awal usia produktif — bahkan sedini mungkin, di usia 20-an.

Pensiun Bukan Hanya Soal Uang

Kepala Cabang Taspen KC Purwokerto, Hari Kusuma Yuda Perwira, membagikan pandangannya mengenai pentingnya perencanaan pensiun dalam podcast Ngopi Ngapak 2.0 di kanal YouTube pada Selasa (3/6).

Menurutnya, persiapan pensiun tidak cukup hanya dengan menabung, tetapi juga mencakup kesiapan psikologis untuk menghadapi perubahan gaya hidup dan berkurangnya penghasilan tetap.

“Ironisnya, banyak pekerja yang memasuki masa pensiun dalam keadaan belum siap — baik secara mental maupun finansial,” ungkap Hari.

“Kebanyakan masih menikmati penghasilan saat ini tanpa memikirkan masa depan.”

Sistem Dana Pensiun dan Tantangan Penghasilan

Di Indonesia, sistem dana pensiun seperti Taspen untuk ASN dan BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja swasta berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengawasan ini memastikan dana yang terkumpul aman serta dikelola melalui investasi yang terdiversifikasi dan berisiko rendah.

Bagi ASN, sekitar 10 persen gaji dipotong untuk tabungan hari tua dan pensiun.

Saat pensiun, mereka menerima manfaat sebesar 75 persen dari gaji pokok seumur hidup.

Namun, karena selama bekerja penghasilan ASN mencakup berbagai tunjangan, penurunan pendapatan pasca pensiun seringkali cukup signifikan.

Untuk itu, Hari menyarankan agar setiap individu mulai mempersiapkan sumber penghasilan tambahan sejak dini — misalnya lewat usaha kecil, investasi properti, atau instrumen keuangan legal lainnya.

Investasi Aman dan Logis

Hari Kusuma menegaskan agar masyarakat tidak tergiur investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat.

“Pilih instrumen investasi yang legal dan logis. Jangan mudah percaya dengan iming-iming cepat kaya, karena risiko kerugiannya besar,” tegasnya.

Beberapa instrumen yang relatif aman antara lain Surat Utang Negara (SUN), obligasi, deposito, dan reksa dana.

Sementara itu, investasi saham tetap bisa dilakukan namun sebaiknya tidak melebihi 10 persen dari total portofolio karena risikonya yang lebih tinggi.

Mulai di Usia 20-an: Waktu Emas Membangun Masa Depan

Hari menekankan pentingnya literasi dan edukasi keuangan agar generasi muda memahami urgensi menyiapkan dana pensiun sejak dini.

“Kalau ingin memutus rantai generasi sandwich, maka persiapan pensiun harus dimulai sejak awal bekerja,” pesannya.

Menghitung kebutuhan dana pensiun dapat dilakukan dengan memperkirakan lama masa pensiun, kebutuhan bulanan, serta faktor inflasi.

Dengan begitu, target tabungan bisa disesuaikan sejak muda agar tidak terasa berat di kemudian hari.

Awal Baru, Bukan Akhir Produktivitas

Pada akhirnya, pensiun bukan akhir dari produktivitas, melainkan awal dari hidup yang lebih terencana dan tenang.

Dengan persiapan keuangan sejak dini, pola hidup hemat, dan investasi yang cerdas, setiap orang bisa menikmati masa tua yang sejahtera, mandiri, dan bermartabat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#dana pensiun #masa tua #Generasi Sandwich #finansial #pensiun