RADARTUBAN - Setiap tanggal 30 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Keuangan Nasional atau yang dikenal juga sebagai Hari Oeang Republik Indonesia (HORI).
Bukan sekadar tanggal biasa, 30 Oktober adalah momen bersejarah ketika Oeang Republik Indonesia (ORI) pertama kali beredar sebagai alat pembayaran resmi negara.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) di Yogyakarta, sehari sebelum ORI diluncurkan.
Di tengah situasi negara yang baru merdeka dan masih berjuang mempertahankan kedaulatan, kehadiran ORI menjadi simbol penting: bahwa Indonesia tidak hanya merdeka secara politik, tapi juga mulai berdiri secara ekonomi.
Baca Juga: Tiga Mesin Uang BCA Siap Ngebut, Buyback Triliunan dan Dividen Naik? Ini Kata Analis!
ORI: Simbol Kemandirian Finansial Bangsa
Sebelum ORI, masyarakat Indonesia masih menggunakan mata uang peninggalan kolonial seperti gulden Belanda atau yen Jepang.
Ini menjadi masalah serius, karena sistem keuangan nasional belum sepenuhnya mandiri.
Maka, lahirnya ORI adalah langkah strategis untuk menunjukkan bahwa Indonesia punya identitas ekonomi sendiri.
ORI bukan hanya uang, tapi juga pernyataan: “Kami berdaulat.” Ia menjadi alat tukar, alat ukur, dan alat pemersatu ekonomi nasional.
Dan sejak saat itu, sistem keuangan Indonesia mulai dibangun dengan semangat kemandirian.
HORI: Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Hari Keuangan Nasional bukan hanya soal mengenang masa lalu, tapi juga soal refleksi.
Bagaimana sistem keuangan kita hari ini? Apakah sudah cukup adil, transparan, dan berpihak pada rakyat?
HORI mengajak kita untuk tidak lupa bahwa ekonomi bukan hanya angka, tapi juga soal keberpihakan dan keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kedaulatan.
Di tengah tantangan global, digitalisasi, dan krisis yang datang silih berganti, semangat HORI tetap relevan: membangun sistem keuangan yang kuat, mandiri, dan tidak mudah goyah.
Dari ORI ke Rupiah Digital?
Kini, Indonesia sedang bersiap memasuki era baru: rupiah digital. Sebuah transformasi dari uang fisik ke bentuk digital yang lebih efisien dan aman.
Tapi semangatnya tetap sama seperti ORI dulu: menjaga kedaulatan ekonomi, memperkuat sistem keuangan nasional, dan memastikan bahwa uang Indonesia tetap jadi milik Indonesia.
HORI bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang masa depan. Tentang bagaimana kita menjaga warisan Mohammad Hatta dan para pendiri bangsa, sekaligus berinovasi untuk generasi berikutnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni