RADARTUBAN – Lima kali pemangkasan suku bunga dan guyuran likuiditas dari pemerintah memang membuat dunia perbankan Indonesia bisa menarik napas sedikit lebih panjang. Tapi jangan buru-buru lega.
Di balik tabel laporan keuangan yang tampak hijau, masih mengintai bayangan gelap: kredit ritel yang rapuh dan risiko gagal bayar yang terus membesar.
Sektor perbankan, meski tampak stabil di permukaan, sejatinya sedang menavigasi badai.
Sembilan bulan pertama tahun ini menggambarkan realitas pahit—margin menyempit, permintaan kredit lesu, dan laba yang tak serata dulu.
Bank-bank pelat merah, yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi nasional, kini justru tertekan oleh provisi kredit yang melonjak dan biaya operasional yang membengkak.
Sementara itu, bank swasta justru tampil lebih lincah. Mereka memanfaatkan efisiensi biaya, diversifikasi pendapatan, dan biaya dana yang lebih rendah untuk tetap bertahan di tengah turbulensi.
“Bank-bank Indonesia diuntungkan oleh penurunan biaya dana seiring pelonggaran moneter, yang dapat meningkatkan margin bunga bersih,” jelas Jayden Vantarakis, Kepala Riset Ekuitas ASEAN Macquarie Capital dikutip dari Ipotnews.
Namun, ia langsung memberi peringatan: “Risiko kredit macet di segmen konsumer, terutama kredit rumah, masih menjadi momok. Kami lebih menyukai bank yang punya eksposur besar ke korporasi besar.”
Bank Pelat Merah: Berat di Beban Sendiri
Tak bisa dipungkiri, bank-bank milik negara kini harus berjibaku dengan beban yang lebih berat.
Bank Mandiri (BMRI), misalnya, mencatat penurunan laba bersih 10 persen menjadi Rp 37,7 triliun.
Biaya operasional naik tajam 25 persen, disusul kenaikan provisi untuk mengantisipasi kredit bermasalah.
Namun, analis CreditSights, Lim Ze Hao dan Pramod Shenoi, menilai eksposur Mandiri di segmen korporasi besar masih jadi penyangga utama.
Suntikan likuiditas Rp 55 triliun dari pemerintah pada September memang membantu pertumbuhan kredit nasional tumbuh 11 persen secara tahunan. Tapi di lapangan, permintaan ritel tetap lesu.
BNI (BBNI) juga tak luput dari tekanan. Laba bersih anjlok 7,3 persen ke Rp 15,1 triliun, sementara NIM turun ke 3,8 persen akibat turunnya imbal hasil kredit. Di segmen ritel, terutama KPR dan kartu kredit, kualitas aset terus memburuk.
“Margin BNI akan mulai pulih di kuartal IV ketika efek penurunan suku bunga deposito dan dukungan likuiditas mulai terasa,” tulis laporan CreditSights.
Sementara itu, BRI (BBRI) — jagoan mikro finans — mencatat penurunan laba 10 persen menjadi Rp 41 triliun.
Meski begitu, BRI masih mempertahankan NIM tertinggi di industri: 7,7 persen. Sebuah capaian yang menunjukkan kekuatan bisnis mikro tetap tangguh, meski badai menampar dari segala sisi.
Berbeda lagi dengan BTN (BBTN). Bank spesialis perumahan ini justru mencatat kenaikan laba 11 persen menjadi Rp2,3 triliun.
Pendapatan KPR non-subsidi melonjak, dan proyek pembangunan tiga juta unit rumah oleh Presiden Prabowo memberi harapan baru.
Meski demikian, BTN tetap siaga — meningkatkan provisi cadangan hingga 230 persen jadi Rp 4,5 triliun.
Baca Juga: Pemindahan Alamat Kantor Bank Syariah Indonesia KCP Tuban Basuki Rahmat 1
Swasta dan Syariah: Tahan Banting di Tengah Guncangan
Sementara bank BUMN masih berjuang menahan tekanan, bank swasta dan syariah justru terlihat lebih siap menghadapi ombak.
Bank Central Asia (BBCA) masih jadi “anak emas” sektor perbankan. Laba bersih naik 6 persen ke Rp 43,4 triliun, didorong pendapatan non-bunga yang naik 13 persen dan NIM yang tetap stabil.
“BCA adalah bank paling efisien dan berkualitas tinggi di kawasan, dengan likuiditas sangat kuat,” ujar Miftahul Khaer, analis Kiwoom Sekuritas.
Sektor perbankan syariah juga tak kalah garang. Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat lonjakan laba 17 persen menjadi Rp 5,4 triliun, dengan kenaikan pembiayaan 16 persen.
BSI juga jadi bank bullion pertama di Indonesia, menikmati lonjakan transaksi emas di tengah harga global yang terus menanjak.
Diversifikasi ke segmen perdagangan dan korporasi membuat BSI lebih kebal dari guncangan tunggal di satu sektor.
Likuiditas Longgar, Tapi Waspada Masih Perlu
Secara makro, sektor perbankan memang mulai terlihat stabil. Pertumbuhan kredit 7,7 persen secara tahunan — tercepat sejak Juni — memberi sinyal perbaikan.
Tapi analis memperingatkan agar euforia jangan kebablasan.
“Sebagian besar bank besar—kecuali BCA—masih akan mencatat penurunan laba tahun ini sebelum rebound pada 2026,” kata Edi Chandren, analis investasi di Stockbit Sekuritas.
Ia menambahkan, “Kuartal ketiga 2025 menjadi titik terendah. Pemulihan bertahap baru akan dimulai kuartal keempat.”
Sementara risiko di segmen ritel, UMKM, dan rumah tangga berpendapatan rendah masih terus membayangi, bank-bank besar tetap berpacu menjaga likuiditas dan menata ulang strategi bisnis.
Di atas kertas, perbankan Indonesia mungkin terlihat bernapas lega. Tapi di baliknya, paru-paru keuangan nasional masih terdengar sesak — menandakan perjalanan menuju pemulihan belum benar-benar tuntas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni