Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Inilah Sentimen Negatif yang Bikin IHSG Ambles Empat Hari, Pasar Modal Dibekukan Setelah Turun 8 Persen di 30 Menit Sesi I

radar tuban digital • Kamis, 29 Januari 2026 | 09:53 WIB
IHSG melemah empat hari berturut-turut, anjlok ke level 7.654 dan memaksa BEI memberlakukan trading halt.
IHSG melemah empat hari berturut-turut, anjlok ke level 7.654 dan memaksa BEI memberlakukan trading halt.

RADARTUBAN – Tekanan berat kembali menghantam pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ambles tajam pada perdagangan Kamis (29/1) pagi.

Pada sesi I sekitar pukul 09.35 WIB, IHSG tercatat anjlok hingga 8,00 persen. Trading halt kedua dalam dua hari ini setelah IHSG anjlok 665 Poin ke level 7.654

Nett foreign sell di IHSG menandai pelemahan yang terjadi empat hari berturut-turut. Kondisi tersebut memaksa BEI memberlakukan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham selama tiga puluh menit.

Pembekuan pasar dilakukan secara otomatis oleh sistem perdagangan BEI sesuai dengan ketentuan penanganan volatilitas ekstrem, guna menahan tekanan jual yang semakin dalam dan memberi ruang bagi pelaku pasar untuk meredam kepanikan.

Trading halt merupakan mekanisme pengamanan pasar yang diterapkan ketika IHSG mengalami penurunan signifikan dalam waktu singkat.

Selama periode tersebut, seluruh aktivitas jual beli saham dihentikan sementara hingga bursa dibuka kembali sesuai aturan yang berlaku.

Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp 17 Ribu IHSG Malah To the Moon: Anomali Asia yang Bikin Geleng Kepala

Sentimen Negatif Membayangi IHSG

Founder Komunitas Investor Saham Yudha Satria Aditama menjelaskan, pelemahan tajam IHSG kali ini dinilai tidak lepas dari kombinasi sejumlah sentimen negatif domestik yang berkembang dan memengaruhi kepercayaan investor.

Beberapa pelaku pasar menilai isu tata kelola dan dinamika politik turut memberi tekanan terhadap persepsi risiko investasi di Indonesia.

Di antaranya adalah polemik seputar figur publik di lembaga strategis, serta tensi hubungan antarinstitusi negara yang belakangan mencuat ke ruang publik.

Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi nasional sepanjang 2026 juga menjadi perhatian investor.

Minimnya kejelasan langkah strategis pemerintah dinilai membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see, bahkan menarik dana dari pasar saham.

Dari faktor eksternal, perubahan aturan indeks global MSCI disebut turut memberi dampak terhadap aliran dana asing di pasar modal Indonesia.

Penyesuaian tersebut berpotensi memengaruhi bobot saham-saham Indonesia dalam indeks acuan investor global.

"Di sisi lain, kenaikan harga emas yang signifikan membuat sebagian investor memilih mengalihkan aset ke instrumen safe haven dibandingkan saham," kata dia.

Kondisi ini mempersempit likuiditas di pasar modal domestik.

Tak kalah penting, daya tarik bursa negara lain seperti China, India, dan Jepang yang menawarkan pertumbuhan lebih agresif turut membuat IHSG kalah bersaing dalam perebutan dana investasi global.

Investor Diminta Tetap Waspada

Analis mengimbau investor untuk tetap mencermati perkembangan pasar dan memperhatikan faktor fundamental sebelum mengambil keputusan.

Volatilitas tinggi diperkirakan masih akan membayangi IHSG dalam jangka pendek seiring derasnya sentimen global dan domestik.

BEI sendiri menegaskan bahwa mekanisme trading halt merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar serta melindungi kepentingan investor di tengah gejolak yang ekstrem. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#investor #trading halt #bursa #ihsg