Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bitcoin Anjlok ke USD 78.000, Timothy Ronald Sebut Ini Seleksi Alam Investor

Rista Dwi Indarwati • Jumat, 6 Februari 2026 | 21:00 WIB
Timothy Ronald.
Timothy Ronald.

RADARTUBAN - Ketidakpastian dalam perekonomian dunia dan ketegangan geopolitik yang semakin intens di awal tahun 2026 mulai menimbulkan dampak.

Bukan hanya pasar saham konvensional, bahkan aset kripto unggulan seperti Bitcoin tidak terhindar dari penurunan harga yang signifikan.

Ahli investasi sekaligus pendiri Akademi Crypto, Timothy Ronald, menggambarkan fenomena ini sebagai bentuk "seleksi alam" bagi para investor.

Dalam video terbarunya yang diunggah di channel YouTube pribadinya (03/02), Timothy menguraikan kondisi pasar yang menurutnya telah mencapai titik terendah kepercayaan publik terhadap bank sentral. 

Dia menyoroti langkah strategis Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang mulai menimbun mineral langka senilai 12 miliar USD untuk mengakhiri dominasi Tiongkok.

“Dunia lama yang kita tahu sedang retak secara foundational. Kepercayaan publik pada kemampuan intervensi bank sentral sedang runtuh di depan mata kita,” tegas Timothy dalam narasi videonya.

Situasi ini semakin buruk akibat perubahan harga komoditas yang tidak stabil.

Emas, yang sebelumnya mencapai puncak tertinggi dalam lima tahun terakhir, malah mengalami penurunan karena spekulasi besar-besaran dari Tiongkok.

Demikian pula, Bitcoin yang biasaanya dipandang sebagai aset tangguh terhadap konflik geopolitik, kali ini justru ikut anjlok dari nilai USD 100.000 ke kisaran USD 78.000.

Meskipun demikian, pria yang sudah 33 bulan konsisten melakukan aksi “Borong Bitcoin” ini justru menemukan kesempatan. Baginya, koreksi ini bukanlah hal yang mengejutkan, melainkan bagian dari siklus struktural yang sudah ia prediksi sejak tahun 2024 lalu.

“Bitcoin ini asset siklikal. Strategi paling jitu adalah mencicil atau Dollar Cost Averaging (DCA). Jangan FOMO saat harga terbang, tapi masuklah saat pasar sedang ‘berdarah’,” imbuhnya.

Dalam aksi nyata di episode ke-33 itu, Timothy menunjukkan komitmennya dengan kembali membeli Bitcoin senilai Rp 100 juta.

Walaupun pasar sedang dalam kondisi menurun, portofolio investasinya menunjukkan angka yang fantastis: total nilai aset mencapai Rp 4,8 miliar, dengan keuntungan keseluruhan sebesar Rp 1,5 miliar.

Dia menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kesabaran dan kedisiplinan selama hampir tiga tahun.

Selain Bitcoin, ia juga memprediksi bahwa sektor energi, seperti minyak bumi dan gas alam, akan menjadi "aktor utama" pada tahun ini karena konflik di Timur Tengah serta ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dia mengingatkan masyarakat agar tidak tertarik dengan skema kekayaan instan.

“Gunakan uang dingin, pelajari fundamentalnya, dan bagi aset berdasarkan waktu. Waktu adalah teman bagi mereka yang disiplin,” pungkasnya menutup narasi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Timothy Ronald #bitcoin #kripto