RADARTUBAN - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 6.187,2 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.447,7 triliun.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 4,87 persen.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada awal 2026 terutama didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap kuat.
Baca Juga: Brand Besar Masuk Citimall Tuban, Bikin UMKM Tertekan? Begini Analisis Pengusaha dan BPS
Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan sebesar 2,94 persen terhadap pertumbuhan.
Kondisi ini didukung oleh meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Selain itu, berbagai kebijakan stimulus turut menjaga daya beli, di antaranya pemberian diskon transportasi, pencairan tunjangan hari raya (THR), serta kebijakan suku bunga acuan yang relatif rendah di level 4,75 persen.
Peningkatan aktivitas ekonomi juga terlihat dari pertumbuhan perjalanan wisatawan domestik sebesar 13,14 persen (yoy), serta lonjakan jumlah penumpang angkutan darat hingga 20,20 persen.
Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen yang didorong oleh proyek pemerintah dan investasi sektor swasta.
Sementara itu, konsumsi pemerintah meningkat signifikan sebesar 21,81 persen, sejalan dengan kenaikan belanja pegawai serta pelaksanaan program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan lapangan usaha, struktur PDB masih didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 19,07 persen, diikuti perdagangan 13,28 persen, pertanian 12,67 persen, konstruksi 9,81 persen, serta pertambangan 8,69 persen.
Sejumlah sektor mencatat pertumbuhan tinggi, di antaranya akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen, jasa lainnya 9,91 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,04 persen. Kinerja ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Adapun sektor industri pengolahan tumbuh 5,04 persen, didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor. Sektor perdagangan tercatat tumbuh 6,26 persen, konstruksi 5,49 persen, serta pertanian 4,97 persen.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah juga menunjukkan tren yang positif.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni