Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

FTSE Russell Umumkan Rekonstitusi Indeks Hari Ini, Pasar Saham Indonesia Dibayangi Tekanan Baru

Tulus Widodo • Jumat, 22 Mei 2026 | 19:37 WIB
Hasil rekonstitusi FTSE Russell akan menentukan arah IHSG.
Hasil rekonstitusi FTSE Russell akan menentukan arah IHSG.

RADARTUBAN – Pasar saham Indonesia kembali memasuki fase penuh ketegangan.

Setelah pekan lalu enam saham domestik tersingkir dari indeks standar MSCI, kini perhatian investor tertuju pada pengumuman rekonstitusi indeks global FTSE Russell. 

Pengumuman dijadwalkan rilis pada Jumat (22/5) setelah pukul 18.00 waktu AS Bagian Timur atau Sabtu (23/5) sekitar pukul 05.00 WIB.

Momentum ini dinilai sangat menentukan arah perdagangan awal pekan depan. Sebab, hasil evaluasi FTSE Russell baru akan direspons pasar saat Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka kembali pada Senin pagi.

Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas pada Jumat (22/5), FTSE Russell akan merilis daftar awal penambahan dan penghapusan saham untuk rekonstitusi indeks Juni 2026 setelah pukul 18.00 waktu AS Bagian Timur atau sekitar pukul 05.00 WIB.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Rontok Usai Pidato Prabowo, Pasar Cium Risiko Kebijakan Agresif Baru

Investor Punya Waktu “Mencerna” Selama Akhir Pekan

Karena pengumuman keluar saat pasar domestik tutup, pelaku pasar memiliki waktu hampir dua hari penuh untuk membaca arah kebijakan FTSE Russell dan menghitung dampaknya terhadap portofolio mereka.

Situasi ini menciptakan atmosfer wait and see yang cukup kuat di kalangan investor institusi maupun ritel. 

Apalagi, sentimen pasar sedang rapuh usai gelombang keluarnya saham Indonesia dari indeks MSCI yang memicu tekanan di sejumlah emiten berkapitalisasi besar.

Banyak pelaku pasar kini khawatir skenario serupa dapat kembali terjadi bila FTSE Russell mengambil langkah agresif dalam evaluasi kali ini.

Isu High Shareholding Concentration Jadi Sorotan

Perhatian investor meningkat setelah FTSE Russell sebelumnya menyatakan akan menghapus saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari indeks global mereka menggunakan harga nol (zero price), efektif mulai 22 Juni 2026.

Kebijakan ini menjadi alarm serius bagi pasar Indonesia karena sejumlah saham domestik memiliki struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi pada pemegang saham pengendali.

Dalam praktiknya, penggunaan harga nol dapat memicu penurunan bobot secara drastis dalam indeks dan berpotensi memaksa dana global melakukan penyesuaian portofolio besar-besaran.

Tekanan jual otomatis dari fund manager asing menjadi risiko yang kini menghantui pasar.

Baca Juga: IHSG Tertekan Usai Rebalancing MSCI, OJK Sebut Pergerakan Pasar Kini Lebih Fundamental

Pasar Menunggu Sinyal Kepercayaan Global

Bagi pasar Indonesia, hasil review FTSE Russell bukan sekadar perubahan daftar indeks biasa. 

Evaluasi ini mulai dipandang sebagai cermin tingkat kepercayaan investor global terhadap kualitas likuiditas dan struktur pasar domestik.

Jika terlalu banyak saham Indonesia terkena dampak kebijakan HSC, tekanan terhadap IHSG berpotensi berlanjut pada pekan depan. 

Sebaliknya, bila hasil evaluasi lebih moderat, pasar bisa mendapat ruang untuk melakukan pemulihan setelah tekanan bertubi-tubi dalam beberapa hari terakhir.

Kini, akhir pekan bukan lagi waktu tenang bagi investor. Semua mata tertuju pada satu hal: bagaimana FTSE Russell membaca pasar Indonesia di tengah gejolak global yang belum mereda. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#FTSE Russell #MSCI #ihsg #Pasar Saham Indonesia