RADARTUBAN - Syafruddin Karimi, seorang pengamat departemen Ekonomi Universitas Andalas Padang berpendapat bahwa merosotnya rupiah ke level Rp 18.000 per Dolar AS tidak dapat dibaca semata-mata sebagai indikator lemahnya APBN.
Ia melihat tekanan utama justru datang dari luar negeri, termasuk dolaf AS yang menguat, (yield) gombal yang tinggi, situasi geopolitik, harga minyak yang naik, serta arus modal keluar dari Indonesia.
"Pelemahan rupiah ke kisaran Rp 18.128 per dolar AS tidak bisa dibaca semata-mata sebagai vonis pasar terhadap APBN, karena tekanan eksternal tetap besar," Ungkap Syafruddin Karimi.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp 17.922 per Dolar AS di Tengah Efisiensi MBG
Ia menegaskan kondisi fiskal tetap menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menilai stabilitas perekonomian.
Syafruddin menyebut bahwa pelemahan rupiah hingga menembus angka Rp 18.000 per dolar AS telah melenceng jauh dari target awal APBN 2026 yang dipatok di kisaran Rp 16.500.
Kondisi ini membuat para pelaku pasar mulai khawatir terhadap lonjakan beban subsidi energi, biaya kompensasi, pelunasan bunga utang valas, serta pembengkakan total kebutuhan dana pemerintah.
Baca Juga: Polisi Temukan Brankas Tersembunyi Saat Geledah Rumah di Sentul, Isinya 74 Kg Emas Hingga Uang Dolar
Meskipun pemerintah mengklaim bahwa pelemahan rupiah hingga di atas Rp 18.000 per dolar AS masih sesuai kalkulasi APBN, pernyataan ini dinilai perlu pembuktian konkret lewat kebijakan fiskal yang terpercaya.
Klaim tersebut baru akan terpercaya jika dibarengi dengan efisiensi belanja negara, penarikan pembiayaan yang terarah, serta target penerimaan yang tidak muluk-muluk.
"Jadi pelemahan rupiah lebih banyak dipicu tekanan eksternal dan sentimen emerging market, tetapi khawatiran fiskal dapat memperbesar tekanan jika Pemerintah gagal menunjukkan kendali atas defisit akhir tahun," pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni