PHK Tokopedia Disebut Capai 90 Persen, Pengamat Soroti Efisiensi ByteDance dan Peran AI

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 17:30 WIB
Raymond Chin menilai AI belum mampu menggantikan programmer sepenuhnya meski efisiensi di Tokopedia terus berlangsung. (Tangkapan layar youtube)
Raymond Chin menilai AI belum mampu menggantikan programmer sepenuhnya meski efisiensi di Tokopedia terus berlangsung. (Tangkapan layar youtube)

RADARTUBAN – Kabar mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Tokopedia kembali menjadi perhatian publik.

Di media sosial beredar informasi yang menyebut sekitar 90 persen karyawan terdampak efisiensi, termasuk tim engineering yang dikabarkan menyusut drastis setelah perusahaan berada di bawah naungan ByteDance.

Isu tersebut memicu berbagai spekulasi, termasuk dugaan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menggantikan peran tenaga kerja di sektor digital.

Pengamat bisnis Raymond Chin menilai angka PHK yang beredar masih perlu dikonfirmasi. Meski demikian, ia melihat arah transformasi yang terjadi di Tokopedia memang menunjukkan adanya efisiensi besar-besaran sejak proses akuisisi oleh ByteDance.

Menurut Raymond, kabar yang menyebut tim engineering hanya menyisakan sekitar 35 programmer bisa saja merupakan bentuk dramatisasi.

Baca Juga: Di Hadapan MK, Guru Ungkap Dugaan Dampak MBG terhadap PHK, PPPK, dan Kesejahteraan Tenaga Pendidik

Namun, ia menegaskan bahwa proses efisiensi berlangsung secara bertahap dan bukan terjadi dalam satu waktu.

Ia menjelaskan, gelombang pertama terjadi pada Juni 2024 dengan sekitar 450 karyawan terdampak akibat adanya posisi yang dinilai tumpang tindih setelah restrukturisasi perusahaan.

Selanjutnya, pada 2025 perusahaan kembali melakukan pengurangan sekitar 420 pekerja, terutama di divisi teknologi dasar, layanan pelanggan (customer care), dan fulfillment.

Gelombang efisiensi berikutnya disebut menyasar tim engineering pada 2026. Langkah itu dikaitkan dengan integrasi sistem backend Tokopedia ke TikTok Shop serta penggunaan teknologi AI internal ByteDance yang mampu mengotomatisasi sebagian proses penulisan kode program.

Meski demikian, Raymond menegaskan AI belum sepenuhnya dapat menggantikan pekerjaan programmer.

Menurutnya, kode yang dihasilkan AI tetap membutuhkan campur tangan manusia untuk melakukan pengawasan, menyusun logika sistem, menguji hasil, serta memastikan kualitas dan keamanan aplikasi.

Namun, keberadaan AI yang semakin canggih membuat perusahaan mulai mengevaluasi kembali kebutuhan jumlah tenaga teknis dalam skala besar.

Raymond menilai perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa industri digital tengah memasuki fase baru yang menuntut pekerja memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Baca Juga: Shopee–Tokopedia–TikTok Kompak Sapu Bersih Produk Thrifting Ilegal: Ratusan Ribu Barang Di-takedown

Ia menekankan bahwa penguasaan AI kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan mulai menjadi kompetensi penting agar tenaga kerja tetap relevan di tengah transformasi industri digital yang berlangsung cepat.

Dengan semakin luasnya penerapan AI dalam berbagai proses bisnis, pekerja di sektor teknologi dituntut tidak hanya memahami pemrograman, tetapi juga mampu memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar kerja.

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
bytedance AI tokopedia phk raymond chin