Pengembangan pertanian ini berlokasi di kawasan Geopark Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, melalui tangan Alwih Rahmatullah yang menyulap lahan seluas 7 hektar menjadi Kebun Kurma Ciletuh.
Proyek percontohan ini memadukan konsep budidaya terpadu sekaligus agrowisata berbasis edukasi.
Di area Kebun Kurma Ciletuh tersebut, ditanam sebanyak 462 pohon kurma yang terdiri atas kombinasi varietas betina jenis Barhi dan varietas jantan jenis Ganami sebagai pohon induk.
Kehadiran Kebun Kurma Ciletuh ini membuktikan bahwa tanaman khas padang pasir mampu beradaptasi dengan baik di iklim tropis.
Baca Juga: Bisnis Nanas Jumbo Tanpa Duri di Galon Bekas, Jamaluddin Panen Nanas Jumbo 7 Kg Beromzet Menggiurkan
Selain menawarkan keindahan lanskap perbukitan Geopark Ciletuh, destinasi ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk merasakan langsung pengalaman memetik buah kurma segar dari pohonnya.
Gagasan pembentukan kebun induk ini berawal dari riset mendalam Alwih saat menyusun skripsi di bangku kuliah. Dia mencermati tren permintaan kurma di tanah air yang terus melonjak dari tahun ke tahun.
Selama ini, kebutuhan pasar akan kurma muda untuk konsumsi harian, program kehamilan (promil), pengobatan herbal, hingga oleh-oleh jemaah haji dan umrah masih sangat bergantung pada pasokan impor.
Melihat peluang bisnis yang menjanjikan tersebut, Alwih tergerak untuk memperdalam teknik bercocok tanam hingga melawat ke sepuluh perkebunan kurma di Thailand.
Dari hasil studi banding itu, dia optimistis iklim Indonesia sangat proporsional untuk pengembangan kurma komersial.
Untuk menjamin kepastian jenis kelamin dan kualitas varietas, dia memilih bibit hasil teknik kultur jaringan (tissue culture).
Meski investasi awal bibit ini relatif tinggi, metode tersebut jauh lebih terjamin untuk skala bisnis dibanding menanam dari biji yang tidak pasti kelaminnya.
Dalam perawatan sehari-hari, proses penyerbukan atau polinasi dilakukan secara manual. Serbuk sari dari bunga jantan dioleskan ke bunga betina pada jam-jam ideal sebelum pukul 09.00 WIB.
Setelah penyerbukan, calon buah dibungkus sungkup khusus agar terlindung dari terpaan hujan deras dan serangan hama lalat buah.
Varietas Barhi dipilih sebagai andalan karena rasanya sudah manis meski dimakan saat masih fase kurma muda (segar). Jenis ini juga terbukti tangguh terhadap tingkat kelembapan serta curah hujan tinggi khas wilayah Indonesia.
Saat berproduksi optimal, satu pohon kurma Barhi dewasa mampu menghasilkan hingga ratusan kilogram buah per masa panen.
Dari segi nilai ekonomi, nilai jual kurma muda terbilang sangat fantastis, yakni berkisar antara Rp300.000 hingga Rp350.000 per kilogram.
Dengan tingkat produktivitas tersebut, satu pohon kurma berpotensi meraup pendapatan hingga Rp30 juta dalam sekali panen.
Alwih berharap keberadaan kebun ini tidak sekadar menjadi tempat transaksi jual beli hasil panen.
Lebih dari itu, kawasan ini diharapkan mampu menjadi sarana edukasi publik sekaligus pembuktian nyata bahwa sektor pertanian Indonesia sanggup memproduksi kurma berkualitas tinggi secara mandiri. (*)