Kenapa UMKM Indonesia Didominasi Bisnis Makanan? Cek Analisis Ekonomi Kreatif Ini

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 14:49 WIB
Deretan lapak UMKM Kuliner di pinggir jalan. (Dok. Magnific)
Deretan lapak UMKM Kuliner di pinggir jalan. (Dok. Magnific)

RADARTUBAN — Sebuah pembahasan menarik yang diunggah oleh kanal YouTube Ubermakea HOMIE mengungkap alasan mendasar di balik fenomena menjamurnya usaha makanan dan minuman di Indonesia.

Selama ini, narasi bahwa Indonesia adalah surga kuliner dengan masyarakat yang berjiwa wirausaha tinggi sering digaungkan sebagai bukti kekuatan UMKM.

Namun, dominasi pedagang makanan pinggir jalan mulai dari ayam geprek, kopi, seblak, hingga gorengan ternyata menyimpan fenomena keterjebakan sistem ekonomi yang jauh lebih kompleks.

Secara teknis, bisnis makanan merupakan sektor dengan hambatan masuk terendah. Seseorang tidak memerlukan sertifikasi khusus, ijazah formal, maupun modal ratusan juta rupiah untuk membuka usaha.

Baca Juga: Dorong Ekonomi Kerakyatan, Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.235 Triliun

Cukup dengan peralatan dapur rumah tangga, resep dari internet, serta keberanian, usaha kuliner sudah bisa dijalankan. Akibatnya, jutaan orang masuk ke dalam pasar persaingan sempurna yang berdarah-darah, di mana pelaku usaha saling mengikis margin keuntungan demi memenangkan perang harga.

Dikutip dari kanal YouTube Ubermakea HOMIE, fenomena ini bukanlah tanda murni dari kreativitas masyarakat, melainkan sebuah bentuk rencana penyelamatan diri saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil.

"Fakta bahwa pekerja informal kita lebih banyak daripada pekerja formal adalah bukti bahwa jualan makanan adalah pilihan terakhir buat bertahan hidup, bukan pilihan pertama untuk berkarir," katanya.

Persoalan ini kian berlarut akibat pergeseran kebijakan ekonomi nasional dari industri padat karya ke industri ekstraktif yang padat modal.

Meskipun industri ekstraktif mampu mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat penyerapan tenaga kerjanya jauh lebih sedikit dibandingkan industri pengolahan atau pabrik manufaktur.

Celah lebar antara lulusan angkatan kerja dan ketersediaan lapangan kerja formal inilah yang memaksa UMKM kuliner menjadi penampung massal masyarakat yang gagal masuk ke sistem ekonomi formal.

Kondisi saling memperebutkan pasar yang sama antar sesama pedagang kecil menciptakan kanibalisme ekonomi atau zombie business, di mana usaha tetap berjalan namun tidak pernah benar-benar membawa kesejahteraan.

Fenomena ini mempertegas bahwa masifnya pertumbuhan pedagang makanan di pinggir jalan pada hakikatnya merupakan indikator penting akan perlunya pembenahan ketersediaan lapangan kerja formal yang layak dan merata di Indonesia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
kuliner ekonomi UMKM makanan