RADARTUBAN — Menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tak melunturkan niat Putri, seorang wanita asal Kepatihan, Tulungagung, Jawa Timur, untuk terjun ke dunia pertanian.
Di sela-sela kesibukannya sebagai staf keuangan, ia bersama sang suami memanfaatkan waktu luang untuk membudidayakan sayuran pakcoy hingga berhasil meraup omzet jutaan rupiah per bulan.
Gagasan ini berawal dari keinginan Putri dan suaminya untuk mengoptimalkan lahan sewa berukuran 60 ru (sekitar 840 m²) yang sebelumnya hanya ditanami tebu.
Merasa tanaman tebu membutuhkan waktu tanam hingga satu tahun, mereka beralih ke budidaya pakcoy yang memiliki cash flow lebih cepat dan masa panen tergolong singkat, yakni sekitar 25 hari.
"Awalnya ini sebagai selingan di sela-sela pekerjaan sehari-hari saya untuk melepaskan penat di akhir pekan. Kami sama sekali tidak memiliki latar belakang di bidang pertanian," ujar Putri dalam liputan yang diunggah kanal YouTube PecahTelur.
Memulai bisnis tanpa pengalaman membuat Putri dan suami harus banyak belajar dari nol. Pada panen pertama, mereka sempat menghadapi kendala seperti pertumbuhan tanaman yang kurang merata dan beberapa bibit mati akibat cuaca panas.
Namun, setelah mengevaluasi pengolahan lahan dan membuat formulasi Pupuk Organik Cair (POC) sendiri dari kotoran hewan, hasil panen kedua meningkat signifikan.
Dari lahan tersebut, mereka mampu menghasilkan sekitar 5 ton pakcoy. Dengan estimasi harga pasar Rp 5.000 per kilogram, potensi pendapatan bersih yang diraup setelah dikurangi operasional mencapai sekitar Rp 17 juta.
Untuk mengefisiensikan tenaga kerja, mereka memasang sistem penyiraman sprinkler otomatis. Penyiraman air dilakukan dua kali sehari, sedangkan proses penanaman bibit sengaja dilakukan setelah magrib atau sebelum jam 10 pagi guna menghindari daun gosong akibat paparan sinar matahari langsung.
Keberhasilan pertanian ini juga didukung oleh konsep open farm atau petik langsung di tempat yang mereka gelar saat akhir pekan. Konsep ini mendapat antusiasme tinggi dari warga sekitar hingga viral di media sosial.
Selain membawa ketenangan dan warna baru dalam aktivitas hariannya, usaha kebun pakcoy milik Putri juga memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar.
Ia melibatkan tetangga dengan berbagai latar belakang profesi untuk membantu perawatan dan mengelola lahan parkir saat panen raya tiba.
"Pesan saya untuk teman-teman pegawai atau karyawan, jangan takut untuk memulai sesuatu hal baru yang bisa dijadikan bekal pensiun nanti. Memulai usaha itu tidak harus selalu *resign* terlebih dahulu," tutup Putri.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni