RADARTUBAN - Keterbatasan pendidikan formal serta latar belakang ekonomi yang sulit tidak menyurutkan semangat Pak Warto (Suroso), seorang perajin cobek batu asal Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Meski tidak tamat sekolah dasar dan berawal dari buruh pencari batu di hutan, Pak Warto membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras mampu mengantarkan sang anak menembus pendidikan tinggi di Jurusan Kedokteran Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya.
Perjalanan hidupnya dipenuhi lika-liku yang tidak mudah. Pak Warto mengawali usahanya sejak era 2000-an dengan bekerja mencari batu di kawasan pegunungan sebelum akhirnya memberanikan diri memproduksi cobek batu secara mandiri.
Pada awal merintis usaha, dirinya sempat mengalami masa sulit ketika produksi cobeknya menumpuk di gudang tanpa ada pembeli. Atas dorongan dari sang istri, Pak Warto memberanikan diri menjelajahi pasar hingga area Batu dan Malang menggunakan sepeda motor hanya untuk menawarkan produk kerajinannya.
Demi menambah modal usaha yang kerap jatuh bangun, sang istri bahkan rela bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan selama tiga tahun.
Dari modal itulah usaha pembuatan cobek batu alami ini kembali menggeliat dan terus berkembang hingga kini memberdayakan belasan tetangga sekitar.
"Alasan intinya kalau anak sukses itu orang tua ikut senang. Orang tua bekerja sampai banting tulang itu cuma mencarikan anak saja, selagi sehat saya bisa berusaha terus," tutur Pak Warto penuh haru.
Selain kegigihan dan dukungan penuh sang istri, Pak Warto meyakini keberhasilan hidupnya tidak terlepas dari kebiasaan berbagi dan bersedekah kepada anak-anak yatim.
Dirinya mengisahkan momen berkesan saat mengalami krisis keuangan ketika harus membayar upah karyawan, namun secara tidak terduga keajaiban datang setelah ia mendonasikan sebagian uang terakhirnya untuk anak yatim.
Kini, dari bengkel kerja sederhananya di Tulungagung, Pak Warto tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga, melainkan juga menanamkan kemandirian serta mengantarkan cita-cita sang anak mengabdi di dunia medis. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni