RADARTUBAN – PT Blue Bird Tbk (BIRD) mampu membalikkan kondisi bisnisnya dalam lima tahun terakhir. Setelah mencatat rugi bersih Rp 161,35 miliar pada 2021, perusahaan transportasi tersebut berhasil membukukan laba bersih Rp 643 miliar pada 2025.
Kinerja tersebut dicapai tanpa mengandalkan strategi banting harga maupun promosi besar-besaran.
Bluebird justru mempertahankan model bisnis berbasis kepemilikan armada dan memperkuat kualitas layanan sebagai pembeda di tengah persaingan transportasi berbasis aplikasi.
Pada 2019, sebelum pandemi COVID-19 memberikan tekanan besar terhadap industri transportasi, Bluebird masih mencatat laba bersih Rp 314 miliar.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 31 Maret 2021, perusahaan mengumumkan kerugian bersih Rp 161,35 miliar.
Kondisi tersebut sempat memunculkan anggapan bahwa bisnis taksi konvensional akan semakin terdesak oleh perusahaan ride-hailing yang menawarkan tarif kompetitif dan didukung pendanaan investor.
Namun, Bluebird justru mampu melakukan pemulihan dan menutup 2025 dengan kinerja yang jauh lebih kuat.
Pendapatan Tembus Rp 5,7 Triliun
Pada 2025, pendapatan Bluebird mencapai Rp 5,7 triliun atau tumbuh 13,2 persen. Angka tersebut menjadi pendapatan tertinggi perusahaan sejak melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO.
Salah satu fondasi bisnis Bluebird adalah kepemilikan armada sendiri. Perusahaan kini mengoperasikan lebih dari 26.000 kendaraan.
Model tersebut berbeda dengan platform digital yang banyak menggunakan kendaraan pribadi milik pengemudi melalui skema kemitraan.
Kontrol terhadap armada kemudian dipadukan dengan proses seleksi pengemudi, pelatihan berkala, serta penerapan Standar Nyaman Indonesia (SNI).
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Bluebird mempertahankan pengalaman dan standar pelayanan bagi penumpang.
Teknologi Bukan Hal Baru bagi Bluebird
Di tengah anggapan bahwa perusahaan taksi konvensional terlambat mengikuti perkembangan teknologi, Bluebird memiliki catatan berbeda.
Perusahaan telah memperkenalkan sistem pemesanan melalui aplikasi ponsel sejak 2011. Peluncuran tersebut dilakukan tiga tahun sebelum layanan taksi berbasis aplikasi dari perusahaan asing masuk ke pasar Indonesia.
Transformasi digital kemudian berjalan berdampingan dengan pengembangan layanan dan armada.
Pada Kuartal I 2026, pendapatan Bluebird kembali tumbuh 11,1 persen menjadi Rp1,45 triliun. Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan berupa peningkatan belanja modal atau *capital expenditure* (capex) untuk menjaga daya saing.
Hadirkan Bluebird Prime
Untuk merespons kebutuhan pasar yang semakin beragam, Bluebird meluncurkan segmen Bluebird Prime pada 16 Juli 2026.
Layanan tersebut diposisikan di antara taksi reguler dan Silverbird. Bluebird Prime menggunakan armada kendaraan hybrid dan listrik.
Pengembangan kendaraan tersebut juga berkaitan dengan target perusahaan untuk mengurangi emisi karbon hingga 50 persen pada 2030.
Di sisi lain, Bluebird tetap mempertahankan kebijakan pembagian dividen. Perusahaan secara konsisten membagikan 65 persen laba bersih kepada pemegang saham.
Transformasi Berkelanjutan
Perjalanan Bluebird menunjukkan bahwa transformasi bisnis tidak hanya dilakukan ketika perusahaan menghadapi tekanan. Adaptasi menjadi bagian yang terus berjalan seiring perubahan pasar dan teknologi.
Theresa dalam kanal YouTube Theresa Learns mengutip pandangan manajemen Bluebird mengenai faktor yang membuat perusahaan mampu bertahan selama lebih dari setengah abad.
"Kalau ditanya apa sih rahasia Bluebird yang bisa bertahan lebih dari setengah abad ini, jawabannya cuma satu: transformasi yang berkelanjutan, bukan transformasi sekali jadi lalu selesai, tapi yang jalan terus setiap tahun dan adaptasi ke pasar," ungkap Theresa.
Perjalanan tersebut memperlihatkan strategi Bluebird dalam menghadapi perubahan industri transportasi, yakni mempertahankan standar layanan sembari terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kendaraan, dan kebutuhan konsumen. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni