RADARTUBAN-Lirik lagu-lagu Koes Plus cukup sederhana.
Lagu-lagu Koes Plus juga menggunakan kata-kata yang nonformal dan biasa digunakan sehari-hari.
Ini menjadikan karya-karya Koes Plus mudah diungkapkan dan mudah dipahami.
Kesimpulan itulah yang terangkum dalam analisis gaya bahasa lirik lagu Koes Plus.
Analisis tersebut dilakukan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogjakarta pada 2011.
‘’Kesederhanaan tersebut ternyata tidak menurunkan kualitas makna yang dikandungnya,’’ tulis hasil analisis tersebut yang diekspos di hamsmars.wordpress.com.
‘’Ketika mengajak bergembira, banyak bunyi ceria di dalamnya. Ketika mengajak bermetafora, sungguh permainan metafora yang tidak menggurui, tapi mudah dimengerti,’’ tulis poin lain hasil analisis tersebut.
Dalam analisis tersebut diungkapkan bahwa kesederhanaan kata dan kesesuaian maksud dengan kenyataan hidup menjadi senjata utama dalam lirik-lirik lagu Koes Plus.
Studi tersebut juga secara khusus menganalisa lagu Koes Plus berjudul Bunga di Tepi Jalan.
Lagu tersebut diciptakan Yon koeswoyo pada 1971 dan dirilis dalam volume 4.
Berikut lirik lagu Bunga di Tepi Jalan dan sosok gadis desa rupawan yang digambarkan:
Suatu kali ku temukan bunga di tepi jalan
Siapa yang menanamnya tak seorangpun mengira
Bunga di tepi jalan merupakan penggalan majas metafora atas seorang gadis yang cantik nan rupawan yang berakhlak mulia dan berada di desa.
Pertemuan tersebut tidak sengaja, sehingga memanfaat diksi suatu kali yang menggambarkan saat yang tidak diduga sebelumnya.
Siapa yang menanamnya merupakan majas metafora atas orang tua dari gadis tersebut.
Orang tua tersebut telah mendidik selama tumbuh kembang, mendampingi dalam berbagai kesulitan dan cobaan, sehingga tumbuh sebaik-baiknya.
Pendidikan yang ditanamkan juga dilaksanakan dengan baik.
Karena itu, hasilnya luar biasa baiknya dan di luar bayangan semula.
Makanya, menghasilkan penggalan tak seorang pun mengira.
Pepatah mengatakan, siapa menanam dia mengetam.
Hal ini berlaku dalam lirik lagu ini.
Hal yang menghasilkan seorang gadis desa baik hati karena dididik oleh orang tua yang baik pula.
Hasilnya pun tidak diragukan lagi baiknya.
Bunga di tepi jalan alangkah indahnya
Oh kasihan kan kupetik sebelum layu
Peran utama dalam lagu ini merupakan bunga di tepi jalan yang sepertinya untuk menegaskannya ditunjukkan dengan majas repetisi.
Majas ini mengulang klausa bunga di tepi jalan beberapa kali dalam lirik lagu ini.
Majas ini juga menunjukkan penegasan dan pengedepanan.
Seperti dalam penggalan sebelumnya, bunga di tepi jalan merupakan gadis desa yang rupawan dan baik hati.
Sanjungan untuk gadis tersebut ditambah lagi dengan pernyataan alangkah indahnya.
Pernyataan yang jujur alias apa adanya ini ditambahkan untuk menyatakan secara halus kekaguman pengarang terhadap apa yang dihadapinya.
Pengarang lebih memilih kata indah, sebagai bentuk memaksimalkan kesempatan bermain diksi, karena merasa indah itu cakupannya luas.
Kalau bunga, tidak sekadar cantik yang bisa diindera dengan penglihatan, tapi juga harum yang memanfaatkan penciuman, dan halus yang memanfaatkan perabaan.
Pengarang menginginkan gambaran menyeluruh untuk si gadis.
Karena gadis tersebut memiliki kecantikan fisik, dari luarnya dan kecantikan budi pekerti–dari dalamnya- yang berimbang.
Kecantikan seperti inilah yang menjadi idaman setiap orang.
Di sekitar semak belukar
Seorangpun tak kan memperhatikan
Kecantikan yang lengkap ternyata susah dicari.
Kadang memang ada yang cantik fisiknya, tapi tidak dengan hatinya.
Karena itu, mencari orang cantik luar dalam bagaikan mencari di semak belukar.
Semak itu selalu terdapat banyak tanaman yang tidak teratur dan saling berebut lahan untuk tumbuh, sehingga misalkan ada benda kecil yang terselip di antaranya akan susah dicari.
Begitu juga dengan seorang gadis menawan luar-dalam bagaikan benda kecil tersebut yang susah dicari, namun sebenarnya ada.
Hal ini menunjukkan penggunaan majas metafora, perbandingan antara semak belukar dengan kondisi kenyataan di masyarakat.
Bunga tersebut sangat kecil, terkubur di antara semak-semak.
Wajar saja ternyata banyak orang yang mungkin saja melewatinya, namun berlalu begitu saja.
Keistimewaannya tidak selalu menarik minat orang.
Karena itu, pilihan kata yang digunakan adalah seorang pun tak kan memperhatikan.
Biarlah kan kuambil penghias rumahku
Oh kasihan kan kupetik sebelum layu
Pengarang memilih untuk mengambil gadis tersebut untuk dijadikan pasangan.
Hal ini dimetaforakan menjadi biarlah kuambil penghias rumahku.
Penghias rumah bisa dimaksudkan sebagai istri yang setia menanti di rumah di kala suami bekerja dan mengurusi rumah sebaik-baiknya sehingga menjadi rumahku surgaku.
Ketika kelelahan mendera setelah bekerja seharian, tibalah saatnya untuk kembali ke rumah memanjakan diri dengan si penghias rumah.
Pilihan pengarang sangat tepat karena si gadis merupakan gadis yang menawan luar dalam.
Tak akan merugi mengambilnya sebagai istri.
Dan kalau tidak sesegera mungkin, selama kesempatan masih ada, sebaiknya dilamar.
Penggambaran peristiwa ini oleh pengarang memilih dengan ungkapan kan kupetik sebelum layu. (*)
Editor : Dwi Setiyawan