Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Belajar Teori Stages of Grief Lewat Film Sore: Istri dari Masa Depan

M. Afiqul Adib • Rabu, 23 Juli 2025 | 17:06 WIB
Lewat teori Stages of Grief, perjalanan emosional Sore dalam film menggambarkan siklus kehilangan yang dialami banyak orang secara nyata.
Lewat teori Stages of Grief, perjalanan emosional Sore dalam film menggambarkan siklus kehilangan yang dialami banyak orang secara nyata.

RADARTUBAN - Film Sore: Istri dari Masa Depan bukan cuma kisah cinta lintas waktu yang bikin hati hangat.

Di balik narasi romantisnya, tersimpan refleksi psikologis yang dalam—terutama soal proses berduka dan menerima kenyataan.

Salah satu teori yang bisa digunakan untuk membaca perjalanan emosional Sore adalah Stages of Grief dari Elisabeth Kübler-Ross.

Apa Itu Stages of Grief?

Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya On Death and Dying (1969).

Dia mengidentifikasi lima tahap utama yang dialami seseorang saat menghadapi kehilangan atau trauma besar:

1. Denial (Penyangkalan)
Menolak kenyataan. “Ini nggak mungkin terjadi.”

2. Anger (Amarah)
Marah pada situasi, orang lain, atau bahkan diri sendiri.

3. Bargaining (Negosiasi)
Berandai-andai, mencoba membuat kesepakatan dengan takdir.

4. Depression (Depresi)
Merasa hampa, kehilangan harapan, dan menarik diri.

5. Acceptance (Penerimaan)
Menerima kenyataan, meski masih menyisakan luka.

Tahapan ini tidak selalu terjadi secara berurutan, dan bisa dialami berulang.

Tapi semuanya adalah bagian dari proses pulih secara emosional.

Sore dan Siklus Duka yang Melelahkan

Dalam film, Sore mengalami time-loop—mengulang hari yang sama demi menyelamatkan Jonathan dari masa depan yang kelam.

Tapi di balik itu, dia juga sedang menjalani proses berduka.

Dia kehilangan versi Jonathan yang ia kenal, kehilangan harapan akan masa depan yang baik, dan kehilangan dirinya sendiri dalam siklus yang tak kunjung selesai.

• Denial: Sore menolak kenyataan bahwa Jonathan akan hancur. Ia terus mencoba mengubah masa depan, seolah bisa menghindari takdir.

• Anger: Dia marah pada Jonathan, pada sistem, pada waktu. Marah karena usahanya tak dihargai.

• Bargaining: Dia mencoba berbagai cara, pendekatan, bahkan kompromi emosional agar Jonathan berubah.

• Depression: Setelah ratusan kali gagal, Sore mulai kehilangan harapan. Ia lelah, hancur, dan mempertanyakan makna perjuangannya.

• Acceptance: Di titik akhir, Sore tidak lagi memaksa. Ia menerima kenyataan, tapi tetap memilih hadir. Bukan karena menyerah, tapi karena cinta yang matang.

Time-Loop Sebagai Alegori Psikologis

Time-loop dalam film bukan sekadar gimmick fiksi ilmiah. Dia adalah metafora dari siklus harapan dan kekecewaan yang dialami banyak orang saat berduka.

Sama seperti Sore, kita sering mengulang usaha, berharap hasil berbeda, lalu kecewa lagi.

Tapi dari situ, kita belajar bahwa penerimaan bukan akhir dari perjuangan—melainkan awal dari kedewasaan emosional.

Film ini mengajarkan bahwa berduka bukan kelemahan. Ia adalah proses manusiawi yang harus dijalani dengan jujur.

Dan Sore, dengan segala luka dan cintanya, adalah cermin dari kita semua—yang pernah kecewa, pernah marah, tapi tetap memilih bertahan dan percaya.

Karena kadang, cinta yang paling kuat bukan yang berhasil mengubah segalanya, tapi yang tetap hadir meski tahu segalanya tak bisa diubah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#film sore #Acceptance #denial #Stages of Grief #anger #psikologis #Emosional #Depression