Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Inilah Alasan Kenapa Kita Suka Lagu Galau Meski Hidup Sedang Baik-Baik Saja

M. Afiqul Adib • Kamis, 24 Juli 2025 | 19:30 WIB
Apa itu royalti musik dan LMKN? Simak penjelasan lengkap beserta polemik yang membuat sejumlah tempat usaha di Tuban memilih sunyi tanpa lagu.
Apa itu royalti musik dan LMKN? Simak penjelasan lengkap beserta polemik yang membuat sejumlah tempat usaha di Tuban memilih sunyi tanpa lagu.

RADARTUBAN - Ada satu fenomena yang cukup ajaib tapi nyata: kita suka lagu galau, bahkan saat hidup sedang baik-baik saja.

Lagu-lagu seperti “Hati-Hati di Jalan” dari Tulus atau karya sendu Bernadya bisa bikin hati nyes, padahal kita nggak sedang patah hati, nggak sedang ditinggal, dan nggak sedang kehilangan.

Tapi tetap saja, kita dengarkan, kita ulang, dan kadang kita tangisi.

Kenapa bisa begitu?

Lirik Lagu Lebih Relatable daripada Nasihat

Salah satu alasan utama adalah lirik lagu galau sering kali lebih jujur dan relatable daripada nasihat orang tua atau motivator.

Ketika Tulus menyanyikan “Semoga engkau tak merasakan, kesepian yang aku rasakan,” rasanya seperti ada seseorang yang benar-benar mengerti isi hati kita.

Bukan sekadar menyuruh “sabar” atau “ikhlaskan saja,” tapi benar-benar menyuarakan luka yang kita sendiri kadang nggak bisa ungkapkan.

Lagu galau membantu kita memvalidasi emosi. Kita merasa tidak sendirian.

Ada orang lain yang pernah merasakan hal yang sama, dan itu membuat kita lebih tenang.

Bahkan, hormon seperti endorfin dan oksitosin bisa meningkat saat kita mendengarkan lagu sedih.

Lagu Galau Itu Jujur

Lagu galau punya kejujuran yang tidak dimiliki oleh banyak bentuk komunikasi lainnya. 

Dia tidak menggurui, tidak memaksa, dan tidak menyuruh kita cepat-cepat sembuh. 

Dia hanya hadir, menemani, dan membiarkan kita merasa.

Bahkan saat kita tidak sedang galau, lagu-lagu seperti “Satu Bulan” dari Bernadya tetap terasa magis.

Ada keindahan dalam kesedihan yang terkemas rapi lewat melodi dan lirik.

Dan anehnya, kita menikmatinya. Karena lagu galau bukan sekadar sedih, tapi juga estetis dan penuh empati. 

Dia mengizinkan kita untuk jujur pada diri sendiri, tanpa harus menjelaskan ke orang lain.

Musik Sebagai Ruang Aman Emosional

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu kuat dan produktif, lagu galau adalah ruang aman emosional. 

Dia tidak menuntut kita untuk bangkit, tapi memberi waktu untuk duduk, merenung, dan menangis kalau perlu.

Bahkan saat kita sedang baik-baik saja, lagu galau bisa jadi pengingat bahwa kita pernah terluka, dan kita berhasil melewatinya.

Lagu galau juga membantu kita menghadirkan kenangan, meresapi perasaan, dan kadang jadi bentuk terapi emosional yang paling sederhana.

Jadi, kalau kamu merasa lagu Tulus lebih ngena daripada nasihat orang tua, itu bukan karena kamu kurang ajar.

Tapi karena lagu punya cara sendiri untuk menyentuh hati—tanpa tekanan, tanpa tuntutan, hanya dengan kejujuran dan melodi yang pas.

Karena pada akhirnya, kita suka lagu galau bukan karena kita sedang galau, tapi karena kita pernah galau. \

Dan lagu-lagu itu adalah cara kita merawat luka lama dengan cara yang paling manusiawi: lewat rasa. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#musik #endorfin #lagu galau #oksitosin #jujur #Emosional #kesepian