RADARTUBAN - Di era algoritma dan playlist yang bisa dikurasi otomatis, selera musik bukan lagi sekadar soal “suka lagu ini” atau “nggak suka lagu itu.”
Dia sudah menjelma jadi identitas, bahkan kadang jadi ajang pembuktian.
Salah satu narasi yang sering muncul adalah: kalau playlist kamu isinya lagu-lagu terkenal, berarti kamu “basic.”
Sebaliknya, kalau isinya lagu-lagu yang jarang didengar, kamu dianggap punya “good taste.” Tapi benarkah sesederhana itu?
Hype vs Underrated: Label yang Terlalu Cepat Ditempelkan
Banyak orang menganggap bahwa lagu-lagu populer otomatis kehilangan nilai artistiknya.
Padahal, popularitas bukan indikator kualitas.
Lagu bisa viral karena memang bagus, relatable, atau punya produksi yang solid.
Mengutip VICE Indonesia, selera musik terbentuk dari paparan, lingkungan, dan pengalaman personal.
Jadi, menyukai lagu yang banyak orang dengar bukan berarti kamu tidak punya selera—bisa jadi kamu memang tumbuh bersama lagu itu.
Sebaliknya, menyukai lagu yang “underrated” juga bukan otomatis tanda superioritas.
Bisa jadi kamu memang sudah menjelajahi banyak genre, banyak musisi, dan akhirnya jatuh cinta pada yang tidak mainstream.
Tapi itu bukan alasan untuk meremehkan orang lain yang masih menikmati lagu-lagu populer.
Musisi Pun Tidak Selalu Mendengarkan Musik Sendiri
Menariknya, banyak musisi justru punya selera yang luas dan tidak terduga. Mereka mendengarkan genre yang jauh dari karya mereka sendiri.
Karena semakin sering mendengarkan, semakin terbuka kemungkinan untuk mengeksplorasi. Dari jazz ke punk, dari dangdut ke ambient—semua bisa jadi inspirasi.
Dan itu berlaku juga untuk pendengar biasa. Semakin sering kamu mendengarkan musik, semakin besar kemungkinan kamu akan menemukan lagu-lagu yang tidak muncul di chart.
Tapi itu bukan karena kamu ingin terlihat keren, melainkan karena kamu memang penasaran dan terbuka.
Selera Musik Itu Personal, Bukan Kompetisi
Yang menyebalkan adalah ketika selera musik dijadikan alat untuk merendahkan orang lain.
Seolah-olah ada hierarki: yang suka indie lebih tinggi dari yang suka pop, yang suka jazz lebih intelektual dari yang suka dangdut.
Padahal, selera musik adalah urusan rasa, bukan ranking.
Preferensi musik bisa mencerminkan kepribadian, tapi bukan untuk dibandingkan. Musik adalah ruang ekspresi, bukan arena kompetisi.
Jadi, kalau kamu suka lagu Tulus, Taylor Swift, atau band obscure dari Jogja yang cuma punya 300 pendengar di Spotify, itu semua sah.
Yang penting, kamu menyukai musik itu karena kamu merasa terhubung—bukan karena ingin terlihat keren, atau takut dianggap “basic.”
Karena pada akhirnya, selera musik yang bagus bukan soal seberapa jarang orang lain mendengarnya, tapi seberapa jujur kamu menikmatinya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama