RADARTUBAN – Musisi independen, Pamungkas, secara jujur membuka perjalanan emosional dan mental yang dialami selama puncak popularitasnya.
Hal itu ia sampaikan dalam siniar eksklusif bertajuk “SiniarPop: Perjalanan Hidup Pamungkas Menuju Tenang” di kanal YouTube Pophariini.
Dalam perbincangan yang berlangsung lebih dari satu jam, Pamungkas mengungkap sisi mendalam tentang perubahan hidup, perjuangan melawan ego, hingga proses menemukan kembali ruang bagi dirinya sendiri—bukan sekadar figur publik, melainkan sebagai manusia.
Sejak awal dikenal sebagai musisi independen yang serba mandiri, Pamungkas mengaku melakukan perombakan besar dalam tim manajemennya pada 2025.
Setelah enam tahun beroperasi dengan struktur lama, dia mengganti semuanya menjadi sistem kolaborasi yang lebih ringkas dan efisien.
“Gua baru aja tahun ini merubah sistemnya. Sekarang sistemnya kayak colab aja, lebih simpel dan efektif,” ujarnya.
Namun, transisi tersebut ternyata menguras energi mental.
Bagi Pamungkas, tantangan terbesar bukanlah urusan teknis, melainkan belajar melepaskan kontrol dan menerima bantuan orang lain.
“Seberapa painful? Lumayan menguras energi banget,” tegasnya.
Pamungkas mengaku sempat melakukan perjalanan darat seorang diri dari Jakarta ke Bali.
Dia menyebutnya “marah road trip,” sebuah pelarian emosional dari tekanan yang ia rasakan setelah ruang kreatifnya dipenuhi ekspektasi publik dan tim.
Dia merasa seperti “stranger in my own backyard” atau orang asing di rumahnya sendiri, sinyal kuat bahwa ia kehilangan koneksi dengan diri sejatinya.
Tahun 2022 menjadi titik balik saat Pamungkas memutuskan berhenti sejenak dari sorotan.
Dia mengaku fase itu membuatnya terlihat “menyebalkan” di mata publik, tetapi justru menjadi masa penting untuk mendengarkan alarm dari tubuh dan jiwanya.
“Kalau kamu sampai melupakan tugasmu di atas panggung dan terlalu jadi anak kecil di atas panggung, berarti di bawah panggung kamu enggak punya ruangan itu," kata pesan dari ibunya menjadi pengingat yang membekas.
Sejak itu, dia mulai memberi ruang bagi inner child-nya di luar panggung, belajar melamban, dan tidak langsung bereaksi terhadap tekanan.
Meski kini mengaku sebagai versi dirinya yang paling bahagia, Pamungkas justru menghadapi kegelisahan baru, yaitu industri musik yang kerap mengotakkan seniman ke dalam satu citra tertentu. “Seniman mesti grow dan itu nature manusia,” tegasnya.
Dia merasa sebagian industri menuntutnya untuk terus berbakti pada hits lama seperti “To The Bone”, padahal seorang seniman sejatinya terus berevolusi.
Pamungkas mengungkap bahwa sebelum merilis album keenam tahun depan, ia akan merilis proyek khusus sebagai respons atas keresahan itu—sebuah pernyataan sikap bahwa seorang seniman ada untuk terus mencipta, bukan mengulang.
Pamungkas tidak lagi mengejar tepuk tangan atau angka streaming.
Dia kini tengah mengejar hal yang jauh lebih dalam, yakni ketenangan batin, keseimbangan hidup, dan kebebasan kreatif.
Pada akhirnya, perjalanan Pamungkas bukan hanya tentang bertahan di industri musik, tetapi tentang pulang kepada dirinya sendiri.
Dalam setiap jeda yang ia ambil, dia menemukan bahwa ketenangan bukanlah tanda berhenti melainkan awal untuk hidup lebih jujur.
Selama musisi muda itu masih memberi ruang untuk merasakan, berkarya, dan tumbuh, maka perjalanannya sebagai seniman tidak pernah selesai.
Karena bagi Pamungkas, perjalanan menuju tenang bukan akhir cerita melainkan awal dari bab yang lebih dalam, lebih manusiawi, dan penuh makna. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama