RADARTUBAN –Band punk rock remaja Sukses Lancar Rejeki (SLR) berhasil mencuri perhatian publik musik independen Indonesia berkat lonjakan popularitas yang terjadi sangat cepat.
Dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, band yang digawangi Mahes (vokal/gitar), Jalil (bass), dan Bumbum (drum) ini menembus berbagai panggung bergengsi, bahkan mencapai titik puncak karier melalui penampilan fenomenal di Synchronize Festival.
Perjalanan mereka semakin menarik untuk dicermati setelah para personelnya memaparkan kisah lengkap dan filosofi bermusik mereka dalam wawancara mendalam bersama kanal YouTube infipop.
Dialog keduanya menyoroti bagaimana ikatan persaudaraan, niat kuat, dan proses belajar yang konsisten mampu mengantar para remaja ini ke level yang tak terduga.
Berawal dari ikatan pengajian, bukan skena musik, SLR tidak lahir dari tongkrongan anak band atau persaingan skena, melainkan dari lingkungan spiritual sejak masa kecil.
Mahes menegaskan bahwa dia, Jalil, dan Bumbum telah tumbuh bersama sebagai teman pengajian di Pesantren Suryalaya.
Kedekatan yang terbangun sejak bayi membuat hubungan mereka lebih dari sekadar rekan band.
“Kami ini sudah seperti saudara. Jadi kalau main musik, semuanya terasa natural,” ujar Mahes.
Nama Sukses Lancar Rejeki pun muncul dari filosofi yang sederhana namun kuat. Bagi Mahes, nama bukan hanya identitas, tetapi juga doa.
“Setiap orang yang menyebut ‘Sukses Lancar Rejeki’ tanpa sadar akan mengamini. Doa itu ikut mengiringi perjalanan kami,” jelasnya.
Rekrutmen Berbasis Niat, Bukan Kemampuan, Fenomena SLR tidak terlepas dari cara Mahes membentuk band.
Dia mengutamakan niat dan komitmen ketimbang kemampuan teknis.
Menurutnya, musisi yang sudah mahir justru sering kurang bersemangat menciptakan karya.
Jalil menjadi contoh paling mencolok.
Dia bergabung sebagai bassis tanpa memiliki pengalaman bermain bass.
“Di rumah dia sedang tidak ada kegiatan, jadi saya aja. Yang saya cari itu kesediaannya, bukan skill awalnya,” kata Mahes.
Hal yang sama terjadi pada Bumbum. Meskipun awalnya bermain gitar, ia bersedia mencoba drum.
Berkat latihan intensif, Bumbum hanya membutuhkan setahun untuk mencapai kemampuan yang layak tampil di berbagai panggung besar.
Pendekatan ini membuat SLR menjadi bukti bahwa niat dan kemauan belajar mampu mengalahkan keterbatasan awal.
Menjaga Keseimbangan Sekolah dan Band, Ketiga personel SLR masih menjalani pendidikan formal.
Mereka memastikan kegiatan manggung tidak mengganggu sekolah. Bumbum menyebut bahwa jadwal tampil selalu diarahkan ke hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
“Kami sepakat sekolah tetap prioritas. Musik jalan, pendidikan juga tetap aman,” tegasnya.
Proses Kreatif yang Mengalir Spontan, Mahes menggambarkan proses penciptaan lagu sebagai hal yang sangat spontan.
Inspirasi sering datang di situasi tidak terduga, bahkan saat pelajaran berlangsung.
Lagu “Tidak Mengerti Matematika” misalnya, lahir saat ia menyelinap merekam ide di bawah meja ketika guru menerangkan Logaritma.
Kejujuran dan keluguan remaja dalam lirik-lirik SLR menjadi kekuatan yang membuat musik mereka terasa segar.
Dari Empat Penonton Menjadi Ribuan, Salah satu titik balik terbesar perjalanan SLR terjadi ketika mereka tampil di Bekasi Junction.
Saat itu hanya empat penonton yang hadir. Namun mereka tetap tampil penuh semangat.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdiri di panggung Synchronize Festival dengan sekitar 2.000 penonton memenuhi area.
Suara penonton begitu keras hingga monitor panggung tak terdengar.
“Kami sampai main cuma pakai feeling. Itu pengalaman yang nggak akan kami lupa,” kenang Mahes.
Lonjakan ini memperlihatkan betapa cepatnya SLR menembus radar pendengar, sekaligus menandai kebangkitan energi punk remaja Indonesia yang lebih organik dan jujur.
Pesan untuk Generasi Muda, Menutup wawancara, SLR memberi tiga pesan penting untuk musisi muda:
1. Konsisten berkarya tanpa henti.
2. Berdoa dan berusaha keras.
3. Membangun relasi dengan komunitas melalui nongkrong.
Mahes mengingatkan bahaya star syndrome.
“Yang paling ditakutkan adalah jadi sok rockstar. Kami harus tetap rendah hati,” tegasnya.
Fenomena SLR menunjukkan bahwa musik tidak selalu membutuhkan latar belakang teknis yang sempurna.
Dengan persaudaraan, ketulusan, dan komitmen, band remaja ini berhasil menggebrak skena musik nasional dan membuka babak baru bagi punk Indonesia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama