Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Konversi Luka Jadi Tawa, Eky Priyagung ajak Damai Dengan Trauma  Masa Kecil

Lailatul Khusna Febriyanti • Senin, 27 April 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi wanita yang memendam kesedihan. (FREEPIK)
Ilustrasi wanita yang memendam kesedihan. (FREEPIK)

RADARTUBAN - Tak selamanya penderitaan harus berakhir dengan air mata.

Bagi Eky Priyagung, komika sekaligus penulis buku Bergurau dari Luka, titik terendah dalam hidup justru bisa menjadi trampolin untuk melompat lebih tinggi.

Dalam bincang hangat di kanal YouTube Suara Berkelas baru-baru ini, alumnus ITB ini membedah bagaimana dia berdamai dengan masa lalu yang kelam di lingkungan lokalisasi hingga menjadi sarjana pertama di keluarganya.

Berikut adalah rangkuman perjalanan inspiratif Eky Priyagung dalam mengolah duka menjadi karya:

Baca Juga: ASN Tuban Wajib Pakai Tumbler, Pemkab Tekan Sampah Plastik dan Hemat Energi

Mengubah Sudut Pandang: Tragedi Plus Waktu Sama Dengan Komedi

Eky menekankan bahwa setiap orang pasti memiliki "goresan" atau luka dalam hidupnya.

Namun, dia menawarkan perspektif berbeda dalam memandang trauma.

Menurutnya, luka tidak seharusnya menjadi penghambat produktivitas, melainkan bisa dijinakkan untuk menjadi kekuatan baru.

"Jangan jadi kuat, tapi jadi kenyal. Kalau kita kenyal, saat dipantulkan (jatuh), kita bisa memantul lebih tinggi," ujarnya mengutip sebuah filosofi hidup yang ia pegang.

Dia percaya bahwa dinding pembatas antara tragedi dan komedi itu sangat tipis. Puncak dari kesedihan seringkali adalah tawa, dan puncak kebahagiaan adalah tangisan.

Berdamai dengan Sosok Ibu: Bukan Pelaku, Tapi Korban

Salah satu bagian paling emosional dari ceritanya adalah hubungannya dengan sang ibu. Tumbuh di lingkungan lokalisasi dan sempat mengalami kekerasan verbal maupun fisik, Eky sempat memandang ibunya sebagai "pelaku" penderitaannya.

Namun, setelah menelusuri sejarah keluarga, ia menyadari bahwa ibunya juga merupakan korban dari rantai trauma antargenerasi.

"Kalau tidak bisa mengubah keadaannya, ubahlah maknanya," kenang Eky menirukan pesan bijak sang ibu yang kini telah hijrah dan banyak belajar agama.

Baca Juga: Cerita Tasya Farasya Soal Titik Terendah Hidup: Dari Luka Perceraian hingga Rahasia Bisnis Sombong

Dia menceritakan momen ikonik tentang "buah mangga" sebagai simbol permintaan maaf sang ibu. Di saat Eky merasa sangat marah, ia melihat ibunya tertidur kelelahan setelah menyiapkan mangga untuknya. "Itu cara mama minta maaf. Tidak lewat kata-kata, tapi tindakan," imbuhnya.

Melawan dengan Prestasi dan Literasi

Menjadi sarjana pertama di keluarga bukan perkara mudah. Eky harus menghadapi stigma dan keterbatasan ekonomi.

Baginya, pendidikan adalah cara untuk menjadi "orang asing" di lingkungan lama agar bisa tumbuh di level yang baru. Ia sempat merasa menjadi "ikan salmon di antara ikan teri" saat di SMK, namun merasa menjadi "bukan siapa-siapa" saat masuk ke ITB yang penuh dengan orang-orang hebat.

Kini, melalui stand-up comedy dan tulisan, Eky berusaha melanjutkan estafet literasi yang sempat terputus dari kakaknya. 

Dia ingin menunjukkan bahwa storytelling adalah alat pertahanan diri (survival mode) yang ampuh untuk menghalau ancaman dan menyembuhkan diri sendiri.

Pesan untuk Generasi Muda: Pentingnya Menjaga Kewarasan

Di akhir perbincangan, Eky mengingatkan bahwa sebelum menjadi produktif, hal utama yang harus dijaga adalah kewarasan.

Dia tidak menutup diri dari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater jika trauma sudah mulai mengganggu fungsi hidup.

"Hidup itu estafet rasa sakit. Selama masih merasakan sakit, kita masih hidup. Tapi yang luar biasa adalah tafsirnya—luka itu mau kita jadikan apa," pungkasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#eky priyagung #youtube #air mata #itb #Suara Berkelas