RADARTUBAN - Laut Selatan merupakan salah satu pesisir yang paling ditakuti di Indonesia.
Ombak besar dan arus balik yang kuat menjadikan kawasan ini berbahaya bagi para wisatawan.
Namun, di balik ketakutan tersebut, terdapat kombinasi antara bahaya alam yang nyata dan mitos-mitos yang berkembang dalam budaya Jawa.
Ombak Besar di Laut Selatan: Ancaman Nyata
Pesisir selatan Pulau Jawa langsung menghadap Samudra Hindia, yang dikenal sebagai sumber ombak ganas.
Ombak di pantai ini bisa mencapai 3 hingga 6 meter, bahkan lebih saat cuaca ekstrem.
Baca Juga: Filipina Tuduh Nelayan China Sebar Racun Sianida di Laut China Selatan
Tidak hanya ombak, dasar laut yang curam dan arus balik yang kuat menjadi faktor utama kecelakaan.
Banyak wisatawan yang menjadi korban karena tidak menyadari bahaya arus balik, yang dapat menyeret mereka ke tengah laut dalam hitungan detik.
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setiap tahun tercatat banyak kecelakaan yang terjadi di pantai-pantai selatan.
Misalnya, di Pantai Parangtritis, Pantai Baron, dan pantai lainnya di Jawa.
Mitos Nyi Roro Kidul dan Kekuatan Gaib Laut Selatan
Selain bahaya alam, Laut Selatan juga dipenuhi dengan mitos. Masyarakat Jawa mengenal sosok Nyi Roro Kidul sebagai penguasa laut.
Dalam berbagai legenda, ia disebut-sebut sebagai sosok gaib yang memiliki kerajaan di dasar laut.
Kepercayaan ini membuat banyak wisatawan ragu, terutama jika mereka memakai pakaian hijau, yang konon bisa memanggil sosok tersebut.
Namun, larangan ini lebih bersifat budaya. Warna hijau diduga dipilih karena sulit terlihat di laut, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan.
Baca Juga: Prabowo Bertemu Biden Minta Bantuan Amankan Laut China Selatan?
Risiko Tsunami di Pesisir Selatan
Pesisir selatan Jawa juga berada di jalur seismik. Hal ini membuat wilayah tersebut berisiko tinggi terhadap gempa dan tsunami.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada karena potensi tsunami di Laut Selatan bisa datang kapan saja.
Laut Selatan adalah kombinasi antara bahaya alam yang nyata dan mitos yang diwariskan turun-temurun.
Dengan memahami kedua hal ini, kita bisa lebih waspada saat berkunjung.
Mengingat potensi bencana seperti tsunami dan arus balik yang kuat, kita harus selalu mengutamakan keselamatan.
Sebagai tambahan, penting untuk memverifikasi setiap informasi, menggunakan sumber yang kredibel, dan menjaga independensi dalam melaporkan bahaya Laut Selatan.
Dengan begitu, kita dapat menjaga tradisi budaya sekaligus memastikan keselamatan publik. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni