Mengenal Suku Afar: Tangguh Bertahan Hidup di Gurun Danakil yang Dikenal 'Neraka Bumi'

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:32 WIB
Potret Suku Afar yang tetap beraktifitas di lingkungan dengan suhu yang sangat ekstrem. (Tangkapan Layar YouTube Kendati Demikian)
Potret Suku Afar yang tetap beraktifitas di lingkungan dengan suhu yang sangat ekstrem. (Tangkapan Layar YouTube Kendati Demikian)

RADARTUBAN - Di salah satu kawasan paling tidak bersahabat di planet Bumi, terdapat kelompok masyarakat yang mampu bertahan hidup selama berabad-abad.

Mereka adalah Suku Afar, etnis nomad yang mendiami kawasan Depresi Danakil, wilayah perbatasan antara Etiopia, Eritrea, dan Jibuti.

Dilansir dari kanal YouTube Kendati Demikian, kawasan Danakil berada sekitar 100 meter di bawah permukaan laut. Kawasan ini sering juluki sebagai "neraka di bumi" karena kondisi lingkungannya yang sangat ekstrem.

Suhu udara di wilayah ini berkisar antara 35 hingga 60 derajat Celsius, dipadukan dengan tingkat kelembapan yang sangat rendah serta curah hujan yang tergolong amat minim.

Baca Juga: Pos Indonesia Masuk Zona Merah, Fitch Turunkan Peringkat usai Tunggak Pembayaran Sukuk Jatuh Tempo

Tidak hanya cuaca yang membakar, kawasan ini juga diwarnai aktivitas vulkanik bawah tanah. Salah satu fenomena terkenal di Danakil adalah kawah Dallol yang dipenuhi kolam-kolam air asam berwarna-warni. 

Kolam tersebut memiliki kadar keasaman sangat tinggi serta kandungan sulfur yang kuat, sehingga memancarkan aroma gas menyengat dan beracun.

Meski berada di lingkungan yang mematikan, Suku Afar menggantungkan mata pencaharian utama mereka pada penambangan garam tradisional.

Dahulu, wilayah Danakil merupakan bagian dari lautan yang mengering dan meninggalkan endapan garam tebal.

Secara manual menggunakan alat sederhana seperti linggis dan kapak, para pekerja memotong hamparan garam menjadi balok-balok persegi yang disebut amole.

Balok-balok garam tersebut kemudian diangkut menggunakan karavan unta melintasi gurun selama berhari-hari untuk dijual ke pasar-pasar di perkotaan.

Bagi Suku Afar, tradisi ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan warisan budaya leluhur dan simbol ketahanan hidup manusia di tengah keganasan alam. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Suku Afnar etiopia gurun danakil suhu