RADARTUBAN — Sebuah pembahasan menarik yang diunggah oleh kanal YouTube KhAnubis mengungkap alasan historis dan linguistik di balik keputusan Indonesia mengadopsi alfabet Latin serta bahasa Melayu sebagai fondasi bahasa nasional.
Meskipun Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dan puluhan sistem aksara tradisional seperti Jawa, Sunda, hingga Lontara, penetapan alfabet Latin dan Bahasa Indonesia menjadi langkah krusial dalam menyatukan keberagaman kepulauan Nusantara.
Secara historis, pilihan untuk menggunakan bahasa Melayu yang kemudian disempurnakan menjadi bahasa Indonesia didasari oleh posisinya yang telah lama menjadi lingua franca di jalur perdagangan sejak masa Kesultanan Malaka.
Saat masa penjajahan, pemerintah kolonial Belanda tidak berfokus menyebarkan bahasa mereka ke masyarakat lokal, melainkan turut menggunakan serta membakukan bahasa Melayu administrasi melalui sistem Ejaan van Ophuijsen pada tahun 1901.
Baca Juga: Menengok Kampung Jawa di Tiongkok, Tempat Budaya dan Bahasa Nusantara Tetap Lestari
Momen Sumpah Pemuda 1928 makin mempertegas komitmen para pendiri bangsa untuk tidak memilih bahasa Jawa meskipun merupakan bahasa dengan penutur terbesar demi menjaga kesetaraan antar-suku dan menghindari dominasi hierarki bahasa.
Dikutip dari kanal YouTube KhAnubis, penggunaan alfabet Latin makin terakselerasi berkat efisiensi administrasi dan sistem pendidikan yang ditinggalkan era kolonial.
"Meskipun Belanda tidak meninggalkan bahasanya, mereka meninggalkan sistem alfabet yang dapat bekerja cukup baik untuk menyatukan berbagai bahasa daerah," dikutip dari YouTube KhAnubis.
Perkembangan penulisan dan pembakuan bahasa nasional terus berlanjut hingga pasca-kemerdekaan melalui berbagai penyempurnaan ejaan.
Walaupun aksara-aksara tradisional seperti Kawi, Pegon, maupun Hanacaraka tetap dilestarikan melalui pendidikan daerah, sistem alfabet Latin telah terbukti menjadi jembatan komunikasi yang efektif, inklusif, dan praktis bagi seluruh rakyat Indonesia di era modern. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni