Mengapa Kecurangan Kecil Merupakan Benih Korupsi? Menelisik Kebiasaan Licik Sehari-hari

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi sejumlah uang tunai yang berserakan di atas meja. (Magnific)
Ilustrasi sejumlah uang tunai yang berserakan di atas meja. (Magnific)

RADARTUBAN - Praktik korupsi tidak hanya terjadi di tubuh birokrasi, pemerintahan, atau militer, melainkan tumbuh subur dari benih mentalitas licik dalam kehidupan sehari-hari.

Perilaku kecurangan berskala kecil, seperti memanipulasi fitur pengembalian dana (refund) aplikasi pengantaran makanan demi pesanan gratis menjadi bukti nyata menjamurnya mentalitas koruptif di tingkat masyarakat bawah.

Dikutip dari kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School, pengulangan perilaku curang yang kerap dimaklumi pelaku dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan psikologi perilaku dan sosial.

Baca Juga: Mengenal Crab Mentality, Pola Pikir Toksik yang Diam-Diam Menghambat Kesuksesan

Bias Persepsi dan Pembenaran Moral atas Kecurangan

Salah satunya lewat fenomena deception consensus effect. Riset lintas budaya mengenai kejujuran menunjukkan bahwa warga di negara dengan tingkat korupsi tinggi justru cenderung menilai diri mereka sangat jujur. 

Akibatnya, seseorang yang berulang kali melakukan kecurangan kecil tetap menganggap dirinya sebagai pribadi yang bermoral.

Mekanisme kerja otak berupa moral licensing atau lisensi moral turut memperparah kondisi ini. 

Perasaan telah berbuat baik pada suatu hal, seperti menyuarakan keadilan di media sosial, menolong teman, atau berdonasi membuat otak memberikan "kredit moral" secara otomatis. 

Kebaikan ini lantas dijadikan pembenaran implisit untuk melakukan kecurangan kecil lain, seperti manipulasi refund atau memakai perangkat lunak bajakan, tanpa rasa bersalah.

Teknologi Digital dan Pentingnya Kesadaran Individu

Perkembangan teknologi digital juga mengikis empati publik melalui online disinhibition effect. 

Berbeda dengan transaksi tatap muka yang memperlihatkan langsung raut wajah korban, era digital menghadirkan jarak dan anonimitas. 

Saat merugikan orang lain lewat layar ponsel, alarm moral dalam otak tidak aktif lantaran pelaku tidak menyaksikan langsung penderitaan korban.

"Mental gratisan dan mental koruptor itu bukan dua hal yang berbeda, itu spektrum yang sama, bedanya cuma skala dan kesempatannya," papar narasi dalam unggahan video tersebut.

Budaya korupsi pada dasarnya berakar dari pola pikir yang membenarkan kecurangan demi keuntungan pribadi.

Sebab itu, pemutusan rantai mentalitas koruptif tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum bagi pejabat publik, tetapi wajib dimulai dari pergeseran kesadaran setiap individu. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
mental gratisan kecurangan Korupsi