RADARTUBAN – Wilayah Trowulan di Kabupaten Mojokerto menyimpan jejak kemegahan Imperium Majapahit melalui Kawasan Cagar Budaya Nasional seluas 9.286 hektar.
Sebagai bekas ibu kota kerajaan maritim terbesar di Nusantara yang didirikan Raden Wijaya pada 1293, kawasan ini menyajikan bukti sejarah peradaban masa lalu di tengah tumbuhnya Mojokerto sebagai kawasan industri.
Kawasan bersejarah yang memiliki luas hampir tiga kali Kota Yogyakarta ini menyimpan beragam artefak dan struktur peninggalan fisik penting.
Baca Juga: Meneladani Kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi: Ratu Tangguh Pembuka Kejayaan Majapahit
Pendokumentasian arkeologisnya sendiri telah dimulai sejak abad ke-19 oleh Sir Thomas Stamford Raffles.
Deretan Situs Bersejarah dan Simbol Persatuan Nusantara
Beberapa situs peninggalan utama yang ada di Trowulan antara lain Candi Bajang Ratu yang berfungsi sebagai gerbang peringatan wafatnya Raja Jayanegara, Candi Tikus sebagai petirtaan ritual penyucian diri.
Serta Kolam Segaran seluas 6,5 hektar yang difungsikan untuk penampungan air bersih sekaligus penjamuan tamu kerajaan.
Selain bangunan fisik, sejarah Majapahit di Mojokerto diwarnai oleh pengucapan Sumpah Palapa oleh Patih Gajah Mada pada 1336.
Sumpah tersebut menjadi simbol komitmen persatuan wilayah Nusantara yang nilai historisnya terus dipelajari hingga saat ini.
Pusat Penelitian Kebudayaan dan Potensi Wisata
Pentingnya posisi Trowulan dalam sejarah Majapahit kembali diulas secara edukatif melalui tayangan konten youtube WTF World.
Dalam tayangan tersebut, Dr. Mangkubumi menegaskan alasan utama kawasan ini menjadi pusat penelitian arkeologi.
"Trowulan ini adalah ibu kotanya Majapahit. Karena memang Majapahit itu memilih tanah di daerah sini untuk jadi ibu kotanya," kata Dr. Mangkubumi.
Melalui penelusuran sejarah ini, generasi muda diharapkan makin terdorong untuk mempelajari warisan kebudayaan lokal sekaligus mengoptimalkan potensi pariwisata sejarah di Jawa Timur. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari