RADARTUBAN - Tragedi tenggelamnya kapal pesiar mewah RMS Titanic pada 15 April 1912 di perairan dingin Atlantik Utara menelan lebih dari 1.500 korban jiwa.
Namun, sejak bangkai kapal legendaris ini pertama kali ditemukan pada September 1985 oleh tim peneliti di kedalaman 3.800 meter (12.600 kaki), muncul sebuah pertanyaan besar yang menyita perhatian, mengapa tidak pernah ditemukan satu pun kerangka atau sisa jasad manusia di lokasi tersebut?
Berdasarkan analisis sains biologi dan kimia kelautan, ketiadaan kerangka manusia di sekitar lokasi bangkai Titanic bukanlah misteri gaib, melainkan hasil dari proses alamiah ekstrem di kedalaman laut dangkal dan dalam.
Baca Juga: Sembilan Korban KM Virgo Transport 8 Ditemukan di Dalam Bangkai Kapal
Sesaat setelah kapal tenggelam, organisme pemakan bangkai dasar laut dengan cepat mengonsumsi jaringan lunak. Sementara itu, tulang-tulang manusia larut akibat fenomena kimia air laut.
Bangkai Titanic terletak jauh di bawah garis Calcium Carbonate Compensation Depth (CCD) atau batas kompensasi kalsium yang berada di kisaran kedalaman 3.000 kaki.
Pada tingkat kedalaman ekstrem tersebut, air laut yang dingin, kaya akan karbon dioksida, dan bertekanan tinggi bertindak sangat reaktif terhadap kalsium karbonat.
Akibatnya, material keras seperti tulang manusia terlarut habis hanya dalam hitungan bulan.
Penjelasan ilmiah ini diperkuat oleh analisis dari kanal edukasi Sisi Terang yang mengulas dinamika biologi laut dalam pada sisa-sisa tragedi Titanic.
"Bangkai Titanic berada di kedalaman 12.500 kaki, jauh di bawah garis kritis 3.000 kaki. Eksperimen laut dalam membuktikan batas kompensasi kalsium bahwa air laut yang keras dapat melarutkan tulang yang keras dalam hitungan bulan. Penumpang Titanic pada dasarnya dihapuskan oleh samudra itu sendiri," ungkap narator dalam tayangan video analisis tersebut.
Selain misteri hilangnya kerangka, kondisi fisiologis bangkai kapal itu sendiri menunjukkan perbedaan yang sangat kontras antara bagian depan (haluan) dan belakang (buritan).
Haluan kapal terbaring relatif utuh karena terisi air secara perlahan saat meluncur ke dasar laut.
Sebaliknya, bagian buritan hancur lebur dan hanya tersisa tumpukan baja terpelintir sejauh 600 meter dari haluan.
Kerusakan parah pada buritan dipicu oleh terjebaknya kantong-kantong udara di ruang kargo dan kompartemen penumpang kelas tiga saat kapal patah menjadi dua.
Ketika buritan tersedot dengan cepat ke kedalaman ekstrem, perbedaan tekanan air yang mencapai 390 kali lipat dibanding permukaan menghancurkan ruang-ruang udara tersebut secara beruntun hingga memicu ledakan internal.
Baca Juga: Minim Armada Laut, Damkar Tuban Belum Memiliki Kapal Khusus Pemadam Kebakaran
Kini, keberadaan fisik bangkai Titanic yang tersisa di dasar samudra dihadapkan pada ancaman kepunahan total.
Ribuan bakteri pemakan besi (Halomonas titanicae) dilaporkan mengonsumsi struktur baja kapal dengan laju korosi mencapai 0,13 hingga 0,2 ton besi per hari.
Para ahli maritim memperkirakan bahwa akibat kombinasi tekanan air, arus laut, dan gerogotan bakteri mikroba, seluruh struktur ikonik Titanic diprediksi akan runtuh dan lenyap sepenuhnya dari dasar laut dalam kurun waktu 40 hingga beberapa ratus tahun mendatang.
Kondisi ini mendorong berbagai lembaga riset internasional gencar melakukan pemindaian digital 3D beresolusi tinggi guna mendokumentasikan setiap detail sisa-sisa kapal sebelum benar-benar diambil alih kembali oleh alam. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni