RADARTUBAN - Kabar tentang burung hantu yang selama ini menjadi maskot Duolingo "tewas" mendadak viral pada Selasa (11/2).
Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun media sosial X resmi Duolingo, mengejutkan banyak pengguna dan warganet.
Dalam pernyataannya, Duolingo mengungkapkan bahwa penyebab kematian Duo masih menjadi misteri dan tengah dalam proses penyelidikan.
"Pihak berwenang saat ini sedang menyelidiki penyebab kematiannya dan kami bekerja sama sepenuhnya", pernyataan Duolingo.
Selain itu, Duolingo juga mengubah logo aplikasinya serta menambahkan tanda X pada mata Duo.
Perubahan ini membuat banyak pengguna bingung dan mempertanyakan apakah kejadian ini benar-benar nyata atau hanya bagian dari strategi pemasaran kreatif.
Duolingo juga menyelipkan humor dalam pengumuman mereka, menyebut bahwa kemungkinan Duo "meninggal" karena terlalu lama menunggu pengguna menyelesaikan pelajaran bahasa mereka.
"Sejujurnya, dia mungkin meninggal saat menunggu Anda menyelesaikan pelajaran, tetapi apa yang kami ketahui?" tulis Duolingo.
Sebagai tanda penghormatan, Duolingo mengimbau para pengguna untuk tetap melanjutkan pelajaran bahasa mereka, alih-alih mengirimkan bunga.
Banyak yang menduga bahwa pengumuman ini merupakan bagian dari strategi pemasaran kreatif Duolingo.
Sejak kabar ini tersebar, berbagai teori mulai bermunculan di media sosial.
Beberapa orang beranggapan bahwa ini merupakan bagian dari strategi pemasaran Duolingo untuk menarik minat pengguna.
Beberapa pengguna internet bahkan bercanda bahwa Duo "menghilang" akibat terlalu sering menagih pengguna yang enggan belajar bahasa.
Sementara itu, ada juga yang merasa kehilangan, sebab Duo telah menjadi ikon khas Duolingo yang dikenal dengan notifikasinya yang selalu mengingatkan pengguna untuk belajar.
Duo, burung hantu hijau yang menjadi maskot Duolingo, sebenarnya bukanlah makhluk hidup, melainkan karakter fiksi yang dirancang sebagai bagian dari identitas aplikasi.
Namun, kehadirannya di dunia digital begitu kuat melalui meme, notifikasi, dan strategi pemasaran kreatif, sehingga seolah-olah "hidup" di mata para pengguna.
Walaupun Duo tidak benar-benar ada di dunia nyata, dampaknya dalam pembelajaran bahasa sangat signifikan.
Banyak pengguna berseloroh bahwa mereka merasa "dihantui" oleh Duo setiap kali melewatkan pelajaran, berkat notifikasinya yang khas, sering muncul dengan nada mengingatkan atau bahkan humoris bernada "mengancam."
Dengan demikian, meskipun Duo tidak hadir secara fisik, dalam budaya internet dan komunitas pengguna Duolingo, dia seolah menjadi sosok nyata yang selalu mengawasi dan memastikan pengguna tetap belajar bahasa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni