RADARTUBAN - Setiap 22 April, dunia serentak memperingati Hari Bumi sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Tahun ini, Hari Bumi 2025 menandai usia ke-55 sejak pertama kali digagas pada 1970.
Pada peringatan yang jatuh di hari Selasa ini, tema global yang diangkat adalah Our Power, Our Planet atau dalam versi Bahasa Indonesia beratikan Energi Kita, Planet Kita.
Tema ini mendorong seluruh umat manusia untuk mempercepat peralihan menuju energi terbarukan, termasuk target ambisius untuk meningkatkan produksi listrik bersumber energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030.
Hari Bumi muncul sebagai respons atas semakin buruknya kondisi lingkungan di Amerika Serikat pada akhir 1960-an.
Tragedi ekologis berupa tumpahan minyak besar di perairan Santa Barbara, California, Januari 1969 menjadi pemicu utama.
Sosok kunci di balik inisiatif ini adalah Senator Gaylord Nelson, yang telah lama prihatin terhadap sikap abai pemerintah federal terhadap lingkungan hidup.
Dikutip dari History, Jumat (22/4), Nelson mulai menjabat sebagai anggota Senat AS sejak 1962. Kala itu, kesadaran masyarakat akan isu lingkungan masih sangat rendah, bahkan konsep daur ulang belum dikenal luas.
Terinspirasi dari semangat mahasiswa dalam gerakan anti-perang Vietnam, Nelson ingin membangkitkan kesadaran serupa untuk isu polusi udara dan air yang kian memprihatinkan.
Dia memaparkan ide Hari Bumi pertama kali dalam konferensi publik di Seattle pada musim gugur 1969. Ajakan Nelson kepada masyarakat luas mendapat sambutan luar biasa.
“Jaringan komunikasi berkawat membawa cerita dari pantai ke pantai. Responsnya sangat menarik. Telegram, surat, dan telepon berdatangan dari seluruh negeri,” kenangnya seperti dilaporkan History.
Hari Bumi pertama kali diperingati pada 22 April 1970 dengan unjuk rasa besar-besaran di berbagai kota besar di Amerika Serikat seperti Los Angeles, Chicago, dan Philadelphia.
Aksi ini melibatkan jutaan orang dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa, pelajar, hingga warga sipil, yang bersatu menyuarakan keresahan atas kerusakan lingkungan seperti pencemaran udara, air, dan degradasi tanah.
Nelson tak bergerak sendiri. Ia berkolaborasi dengan Pete McCloskey, anggota Kongres dari Partai Republik, serta Denis Hayes, mantan ketua mahasiswa Universitas Stanford yang kala itu masih muda dan penuh semangat.
Hayes ditunjuk sebagai koordinator nasional dan bersama tim relawan serta staf Senat, mereka menyebarluaskan kampanye ini ke seluruh penjuru Amerika.
Tanggal 22 April dipilih karena ideal secara akademik, berada di antara libur musim semi dan ujian akhir semester.
Menurut Nelson, kesuksesan gerakan ini tak lepas dari keterlibatan akar rumput yang begitu besar.
“Ini bukan gerakan yang dibentuk dari atas, tapi benar-benar tumbuh dari bawah,” jelasnya.
Momentum Hari Bumi tak berhenti di Amerika. Pada 1990, kampanye ini mulai digelar secara internasional dan berhasil menghimpun sekitar 200 juta partisipan dari 141 negara.
Sejak itu, Hari Bumi menjadi ajang tahunan global yang mendorong perubahan nyata untuk menyelamatkan bumi dari ancaman krisis iklim dan kehancuran ekologis.
Kini, Hari Bumi 2025 menggaungkan pesan yang lebih mendesak, kolaborasi global untuk mempercepat transformasi energi bersih.
Bukan sekadar simbolis, seruan ini menuntut tindakan nyata dari seluruh elemen masyarakat dunia, mulai dari pemerintah, swasta, hingga individu, untuk menciptakan masa depan yang lestari. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni