Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menjaga Alam Lewat Ritual Thetek Melek, Kearifan Lokal Pacitan yang Wariskan Harmoni Manusia dan Sawah

Alifah Nurlias Tanti • Selasa, 23 Desember 2025 | 19:15 WIB
Masyarakat adat di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menggelar ritual adat Thetek Melek,
Masyarakat adat di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur menggelar ritual adat Thetek Melek,

RADARTUBAN- Rombongan warga beriringan membawa opyak-opyakan hama dan tumpeng.

Suara tetabuhan tradisional mengiringi langkah mereka yang menyusuri pematang sawah, menciptakan suasana meriah sekaligus khidmat.

Di barisan depan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji memimpin prosesi sambil membawa bongkok pelepah kelapa yang dilubangi.

Bongkok itu kemudian diserahkan kepada kepala desa, untuk ditancapkan ke tanah sebagai simbol penyatuan manusia dengan alam.

Masyarakat adat Pacitan, Jawa Timur, kembali menggelar ritual Thetek Melek pada hari Minggu (21/12).

Tradisi yang berasal dari kearifan lokal ini membantu penduduk menjaga keseimbangan antara diri mereka sendiri dan alam agraris. Prosesi tahunan yang meriah sekaligus khidmat dihadiri oleh banyak orang, termasuk seniman, dan anggota pemerintah daerah.

Satu per satu, orang lain menancapkan bongkok di sepanjang pematang sawah, mengikuti jejak Bayuaji.

Proses yang sederhana itu memiliki makna yang signifikan karena tampaknya meningkatkan hubungan antara manusia dan tanah yang memberikan kehidupan.

“Mudah-mudahan semua yang kita lakukan ini membawa manfaat, dan apa yang kita tanam menjadi berkah,” kata Mas Aji, sapaan akrab Bupati Indrata Nur Bayuaji.

Pertunjukan seni Kiblat Papat Limo Pancer dan tarian orang-orangan sawah melanjutkan ritual.

Kedua penelitian ini menunjukkan hubungan kosmologis yang erat antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tidak hanya hiburan, suasana terasa penuh makna.

"Thetek Melek bukan hanya seremonial, melainkan doa dan ikhtiar bersama agar alam senantiasa bersahabat dengan para petani," kata Mas Aji dengan optimis.

Dia juga mengatakan bahwa tradisi ini terdiri dari nilai budaya Pacitan, keyakinan spiritual, dan praktik pertanian yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Thetek Melek adalah kearifan lokal yang digunakan untuk menghentikan pagebluk dan menjaga keseimbangan alam, memastikan bahwa kehidupan masyarakat tetap selaras dengan tanah yang mereka cintai.

Tradisi Thetek Melek telah dimulai kembali sejak 2022, meskipun pandemi COVID-19 menghentikannya.

Prosesi utama tahun ini semakin menarik karena festival budaya, jagong tani, acara melukis seribu bongkok, dan pasar UMKM yang membantu warga menghasilkan uang. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa.

Kemudian, masyarakat makan bersama sebagai tanda kebersamaan dan rasa syukur atas sumber daya alam yang mereka miliki. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Ritual Thetek Melek #budaya pacitan #Tradisi Thetek Melek #pacitan #Bongkok #Indrata Nur Bayuaji