Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengulik Keunikan Arsitektur Troglodyte, Hunian Bawah Tanah Rahasia Suku Berber di Tunisia

Amaliya Syafithri • Jumat, 22 Mei 2026 | 18:03 WIB
Ilustrasi Hunian Bawah Tanah. (Instagram @pitravelers_idn)
Ilustrasi Hunian Bawah Tanah. (Instagram @pitravelers_idn)

RADARTUBAN - Dunia ini dipenuhi dengan keajaiban arsitektur kuno yang mencerminkan kecerdasan manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar. 

Salah satu struktur bangunan paling unik namun jarang diketahui oleh masyarakat luas secara mendalam adalah keberadaan pemukiman rumah bawah tanah di wilayah Matmata, Tunisia. 

Terletak di bagian selatan negara Afrika Utara, rumah-rumah yang tersembunyi di dalam tanah ini menyajikan pemandangan eksotis yang sepintas menyerupai deretan sarang semut raksasa atau lanskap dari planet lain. Rumah unik ini dihuni oleh suku asli Berber selama lebih dari seribu tahun.

Rumah bawah tanah ini secara teknis dikenal dengan sebutan arsitektur troglodyte. 

Baca Juga: Penemuan Perahu Besi Kuno 22 Meter di Bengawan Solo: Bukti Autentik Jalur Dagang Masa Lalu Jawa

Proses pembangunannya dilakukan dengan cara yang sangat tradisional namun membutuhkan ketelitian tinggi. 

Alih-alih mendirikan bangunan ke atas menggunakan batu bata atau kayu, suku Berber justru menggali tanah liat yang keras menggunakan peralatan sederhana hingga membentuk sebuah lubang vertikal berukuran besar. 

Lubang raksasa di tengah ini nantinya akan berfungsi sebagai halaman utama terbuka yang menjadi sumber masuknya cahaya matahari dan sirkulasi udara bersih ke dalam rumah.

Setelah halaman tengah terbentuk, barulah mereka mulai menggali dinding-dinding lateral di sekeliling lubang tersebut untuk memahat ruangan-ruangan khusus. 

Lorong-lorong gua yang digali ke samping tersebut kemudian difungsikan menjadi berbagai fasilitas rumah tangga, mulai dari kamar tidur, dapur, tempat penyimpanan gandum, hingga ruang berkumpul keluarga. 

Desain hunian bawah tanah ini terbukti sangat kokoh dan mampu bertahan selama berabad-abad tanpa mengalami kerusakan struktural yang berarti, meskipun hanya mengandalkan topangan struktur tanah alami di sekitarnya.

Alasan mendasar di balik keputusan suku Berber untuk tinggal di bawah permukaan tanah adalah sebagai langkah proteksi terhadap kondisi iklim gurun yang sangat ekstrem. 

Kawasan Matmata dikenal memiliki suhu udara yang sangat menyengat dan panas luar biasa pada siang hari, namun bisa berubah menjadi sangat dingin dan menusuk tulang saat malam hari tiba. 

Struktur tanah liat yang tebal dan masif di sekeliling rumah bertindak sebagai isolator termal alami yang luar biasa efektif. 

Hal ini membuat suhu di dalam ruangan gua tetap stabil, terasa sejuk dan nyaman di musim panas, serta tetap hangat di musim dingin tanpa memerlukan pendingin atau pemanas ruangan modern.

Selain keunikan fungsionalnya, pemukiman bawah tanah di Matmata ini juga memiliki tempat khusus dalam sejarah budaya populer global. 

Salah satu kompleks rumah bawah tanah di kawasan tersebut, yaitu Hotel Sidi Driss, pernah dipilih oleh sutradara terkenal George Lucas sebagai lokasi syuting film fiksi ilmiah legendaris Star Wars. 

Tempat ini ditampilkan di layar lebar sebagai rumah masa kecil tokoh utama Luke Skywalker di Planet Tatooine. 

Berkat popularitas film tersebut, kini banyak wisatawan internasional dari berbagai belahan dunia datang ke Matmata untuk merasakan langsung sensasi hidup di bawah tanah yang menakjubkan ini. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#hunian bawah tanah #matmata #iklim gurun #tunisia