RADARTUBAN – Siapa yang tidak tahu lirik legendaris "Hati senang walaupun tak punya uang"?
Potongan lirik dari lagu Bujangan milik grup musik legendaris Koes Plus ini seolah sudah menjadi "lagu kebangsaan" bagi kaum lajang lintas generasi di Indonesia.
Namun, di balik nadanya yang riang dan liriknya yang sederhana, dari mana sebenarnya inspirasi lagu yang dirilis pada album Volume 9 (1973) ini lahir?
Usut punya usut, lagu Bujangan bukan sekadar imajinasi kosong atau cerita fiksi.
Lagu mahakarya ini lahir dari kombinasi realitas sosial era 1970-an dan pengalaman emosional sang maestro penabuh drum Koes Plus, almarhum Kasmuri atau yang akrab disapa Murry.
Baca Juga: Diana Diana Kekasihku, Inilah Alasan Koes Plus Pakai Nama Diana Dalam Salah Satu Lagu Populernya
Refleksi Masa Lalu Murry yang Hidup Pas-pasan
Meski lagu ini dinyanyikan bersama dan melekat pada citra seluruh personel Koes Plus, inspirasi terdalamnya justru datang dari kisah hidup Murry sebelum mengecap manisnya popularitas.
Sebagai satu-satunya personel yang bukan dari keluarga Koeswoyo, Murry pernah melewati fase hidup sebagai perantau tunggal.
Dia merasakan betul bagaimana menjadi seorang "bujangan" di ibu kota—hidup mandiri, kerap mengalami masa-masa dompet menipis, namun tetap berusaha menikmati hidup dengan kepala tegak. Pengalaman empiris itulah yang kemudian ia tuangkan ke dalam ketukan drum dan lirik yang begitu jujur.
Satir Sosial dan Filosofi Nerimo
Selain faktor personal, Koes Plus memang dikenal sebagai grup band yang sangat jenius dalam memotret fenomena sosial masyarakat kelas pekerja. Era 1970-an adalah masa di mana banyak pemuda mulai merantau untuk mengadu nasib.
Lagu Bujangan hadir sebagai satir sekaligus penghibur bagi para pemuda zaman itu. Liriknya menangkap fenomena psikologis anak muda yang emoh ambil pusing dengan urusan domestik atau tekanan hidup, asalkan mereka bisa menikmati kebebasan masa mudanya.
Lebih dari itu, lagu ini mengusung filosofi nerimo—sebuah konsep kelokalan masyarakat Jawa tentang penerimaan hidup.
Koes Plus berhasil mengemas pesan mendalam bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu diukur dari tebalnya kantong, melainkan dari bagaimana cara kita bersyukur.
Abadi Melintasi Zaman
Lebih dari setengah abad sejak pertama kali diperdengarkan, Bujangan tetap relevan. Formula kesederhanaan lirik dipadu dengan aransemen musik yang easy listening membuat lagu ini menolak tua.
Bagi generasi hari ini, lagu Bujangan adalah bukti otentik bagaimana musik pop Indonesia pada masanya dibangun dari fondasi realitas yang jujur, bukan sekadar komoditas industri.
Baca Juga: RSUD Koesma Tuban Pertahankan Akreditasi Paripurna Setelah Berhasil Menuntaskan Integrasi RME
Lagu ini akan selalu menjadi pengingat, bahwa menjadi lajang dan hidup sederhana pun punya ruang merdeka untuk bahagia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama