Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perhatian atau Posesif? Kenali Tanda-Tanda Hubungan yang Mulai Tidak Sehat

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 17 Juni 2026 | 11:03 WIB
Sikap posesif sering disamarkan sebagai bentuk cinta, pelajari ciri-ciri dan dampaknya agar hubungan tetap sehat dan nyaman.
Sikap posesif sering disamarkan sebagai bentuk cinta, pelajari ciri-ciri dan dampaknya agar hubungan tetap sehat dan nyaman.

RADARTUBAN - Dalam sebuah hubungan asmara, perhatian sering kali dianggap sebagai bentuk kasih sayang yang paling murni.

Namun, ketika garis pembatas antara kepedulian dan kontrol mulai kabur, perhatian tersebut dapat bertransformasi menjadi sikap posesif. 

Secara psikologis, posesif adalah kecenderungan seseorang untuk mendominasi, membatasi, dan mengontrol ruang gerak pasangannya secara berlebihan.

Hubungan yang awalnya terasa hangat dan aman perlahan-lahan bisa berubah menjadi sebuah sangkar yang menyesakkan.

Sikap posesif biasanya berakar dari rasa tidak aman dan ketakutan yang mendalam akan kehilangan. Seseorang yang posesif sering kali merasa cemas dan berpikir bahwa pasangannya akan berpaling atau menemukan orang lain yang lebih baik. 

Baca Juga: 11 Ciri Kepribadian Wendy yang Sering Membuat Hubungan Nyaman tapi Tanpa Kepastian

Sehingga, untuk meredam kecemasan tersebut, mereka mulai menerapkan aturan-aturan yang membatasi, mulai dari memeriksa ponsel secara diam-diam, mendikte cara berpakaian, hingga membatasi dengan siapa pasangannya boleh berteman dan berinteraksi.

Pada tahap awal, perilaku ini kerap disalahartikan sebagai tanda terlalu cinta. Padahal, ada perbedaan mendasar antara cinta yang sehat dan kepemilikan yang obsesif.

Cinta yang sehat dibangun di atas fondasi kepercayaan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap privasi masing-masing. Sebaliknya, sikap posesif justru merenggut kemerdekaan individu dan perlahan-lahan mengikis rasa percaya diri pihak yang dikontrol.

Dampak dari hubungan yang posesif tidak bisa disepelekan. Pasangan yang terus-menerus dicurigai akan merasa tertekan, merasa selalu diawasi, dan kehilangan ruang untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri. 

Jika dibiarkan tanpa adanya komunikasi yang jujur dan batasan yang tegas, sikap posesif ini dapat berkembang menjadi toxic relationship yang merusak kesehatan mental.

Macam - macam sikap posesif:

- Membatasi pergaulan: Orang yang posesif cenderung mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh untuk sang pacar.

Dia ingin jadi satu-satunya orang dalam hidupmu. Dia juga akan berusaha memutus kontakmu dengan sahabatmu. Saat kamu sudah nggak bisa membantah, kamu dipaksa jadi lemah dan bergantung sama dia.

- Minta selalu dikabari: Dikatakan berlebihan kalau dia ingin kamu memberi kabar setiap waktu. Kalau sampai telat memberi kabar, bisa-bisa dia marah dan akan curiga kamu ”main’’ dengan orang lain.

Baca Juga: Trump Ejek Kacamata Hitam Macron Saat Pidato di Davos, Hubungan AS–Prancis Jadi Sorotan Dunia

- Emotional Attack: Emosi yang tidak stabil bisa memicu pasangan yang posesif untuk lebih memperketat aturannya.

Agar kamu menuruti semua permintaannya, tidak jarang dia sampai mengancam. Bahkan, ada juga yang menunjukkan emosi dalam bentuk kekerasan fisik. 

- Selalu cemburu tanpa alasan logis: Rasa cemburu yang muncul bukan karena adanya ancaman, melainkan dari asumsi dan ketakutannya sendiri.

Siapa pun yang berinteraksi denganmu mulai dari rekan kerja, teman sekelas, hingga orang asing yang tidak sengaja menyapa akan langsung dicurigai sebagai saingan.

- Memanipulasi rasa bersalah (Guilt Tripping): Saat kamu mencoba membela diri atau meminta ruang, dia akan memutarbalikkan fakta dan membuatmu merasa sebagai pihak yang bersalah.

Kalimat andalannya biasanya berupa pembelaan bahwa semua kekangan dan kecurigaan yang dia lakukan adalah "demi kebaikanmu" atau bentuk dari "rasa cinta yang mendalam". (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#posesif #cinta #kepedulian #mandiri