Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

AI, Statistik, atau Primbon Jawa? Begini Beragam Cara Memprediksi Juara Piala Dunia

M. Afiqul Adib • Jumat, 17 Juli 2026 | 19:28 WIB
Prediksi selalu menjadi bagian dari Piala Dunia. Ada yang mengandalkan kecerdasan buatan, statistik modern, hingga tradisi budaya seperti primbon Jawa. (Deng Xiang on Unsplash)
Prediksi selalu menjadi bagian dari Piala Dunia. Ada yang mengandalkan kecerdasan buatan, statistik modern, hingga tradisi budaya seperti primbon Jawa. (Deng Xiang on Unsplash)

RADARTUBAN - Sejak pertama kali digelar, Piala Dunia selalu menjadi ajang yang penuh prediksi. Setiap kali turnamen berlangsung, publik mencoba menebak siapa yang akan keluar sebagai juara.

Dari pakar sepak bola hingga masyarakat awam, semua punya cara sendiri dalam membaca peluang.

Di era teknologi, AI menjadi salah satu alat populer untuk memprediksi pertandingan. Dengan memanfaatkan data besar, algoritma kecerdasan buatan bisa menganalisis performa tim, kondisi pemain, hingga pola permainan.

AI mampu memberikan gambaran probabilitas kemenangan dengan detail yang sulit dicapai manusia. Namun, meski canggih, AI tetap bergantung pada data masa lalu dan tidak bisa sepenuhnya menangkap kejutan di lapangan.

Baca Juga: Messi, Mbappe, Kane, atau Bellingham? Perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 Makin Membara

Selain AI, statistik juga memainkan peran penting dalam sepak bola modern. Data tentang penguasaan bola, jumlah tembakan, efektivitas serangan, hingga catatan head-to-head menjadi bahan analisis yang membantu memprediksi hasil pertandingan. 

Statistik memberi dasar rasional, tetapi tetap tidak bisa menjamin hasil akhir. Sepak bola adalah permainan yang penuh variabel, dan angka tidak selalu mencerminkan kenyataan.

Menariknya, di Indonesia ada pendekatan lain yang lebih kultural: primbon Jawa. Tradisi ini menggunakan weton atau neptu hari untuk membaca peruntungan.

Misalnya, pertandingan yang jatuh pada hari tertentu dianggap membawa energi tertentu yang bisa memengaruhi hasil. Bagi sebagian masyarakat, primbon bukan sekadar ramalan, tetapi bagian dari budaya yang memberi makna pada fenomena global seperti Piala Dunia.

Setiap pendekatan tentu punya kelebihan dan keterbatasan. AI unggul dalam analisis data besar, tetapi lemah menghadapi faktor emosional.

Statistik memberi dasar rasional, tetapi tidak bisa menangkap momentum psikologis. Primbon memberi warna budaya, tetapi tidak bisa dijadikan acuan ilmiah.

Semua cara ini menunjukkan bahwa manusia selalu mencari pola untuk memahami sesuatu yang sebenarnya sulit diprediksi.

Mengapa sepak bola tetap sulit diprediksi? Karena permainan ini penuh kejutan. Sepak bola bisa berubah hanya dalam hitungan detik: gol bunuh diri, kartu merah, atau momen brilian seorang pemain.

Faktor mental, dukungan suporter, dan kondisi cuaca juga bisa mengubah jalannya pertandingan. Inilah yang membuat sepak bola begitu menarik: tidak ada yang benar-benar tahu hasilnya sampai peluit akhir berbunyi.

Prediksi Piala Dunia bisa dilakukan dengan berbagai cara: AI, statistik, atau primbon Jawa. Masing-masing punya daya tarik dan keterbatasan.

Namun, sepak bola tetap sulit diprediksi karena penuh kejutan. Pada akhirnya, hasil pertandingan hanya bisa ditentukan di lapangan, bukan di atas kertas atau ramalan.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
prediksi juara piala dunia AI piala dunia Primbon Jawa statistik