Perjalanan Mario Teguh : Dulu Dipuja Sebagai Motivator, Kini Perlahan Hilang Lenyap

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 17:56 WIB
Potret Sosok Mario Teguh saat tampil di layar kaca. (Tangkapan Layar YouTube)
Potret Sosok Mario Teguh saat tampil di layar kaca. (Tangkapan Layar YouTube)

RADARTUBAN — Nama Mario Teguh pernah berada di puncak popularitas sebagai motivator paling berpengaruh di Indonesia.

Lewat program televisi legendaris The Golden Way yang mengudara sejak 2008, jargon "Super Sekali" serta gaya bicaranya yang tenang dan sistematis berhasil memikat jutaan penonton.

Namun, panggung kemegahan yang dibangun belasan tahun itu runtuh seketika akibat kontradiksi kehidupan pribadinya.

Dilansir dari kanal YouTube Rory Asyari, titik balik kejatuhan Sang Motivator bermula pada Oktober 2016. S

eorang pria bernama Ario Kiswinar Teguh muncul ke publik dan mengaku sebagai anak kandung Mario Teguh dari pernikahan pertamanya.

Mario secara tegas menolak pengakuan tersebut, bahkan menuding mantan istrinya melakukan perselingkuhan.

Baca Juga: Merry Riana, Motivator yang Ditunjuk AHY Menjadi Stafsus Menko Infrastruktur, Begini Profilnya

Perselisihan ini berlanjut ke ranah hukum hingga Polda Metro Jaya melakukan tes DNA. Hasilnya menyatakan bahwa Ario Kiswinar sah merupakan anak kandung Mario Teguh. 

Kenyataan tersebut memicu gelombang kekecewaan publik. Sosok yang kerap mengajarkan nilai kejujuran, kerendahan hati, dan tata krama keluarga justru terbukti mengabaikan darah dagingnya sendiri.

Dampaknya, stasiun televisi mulai memutus kontrak, sponsor menarik diri, dan panggung seminar besar perlahan meninggalkan Mario Teguh.

Tak berhenti di situ, pada 2023 Mario Teguh kembali terseret persoalan hukum setelah seorang pengusaha skincare melaporkannya atas dugaan penipuan dan penggelapan dana kerja sama senilai Rp5 miliar.

Meski Mario sempat melaporkan balik atas tuduhan wanprestasi, reputasinya di mata publik semakin merosot tajam.

Kisah rekam jejak Mario Teguh memberikan pelajaran mendasar bagi publik, khususnya para figur publik dan content creator. Pertama, integritas adalah fondasi utama.

Mengajarkan kebaikan tanpa menerapkannya dalam kehidupan nyata hanya akan menciptakan retorika kosong yang rentan hancur.

Kedua, popularitas, uang, dan akses hukum tidak akan mampu menutup kebenaran ketika fakta terungkap. Ketiga, nilai kebaikan harus dijadikan sebagai cara hidup yang konsisten, bukan sekadar strategi pemasaran atau pencitraan semata.

Pada akhirnya, publik tidak hanya menilai seberapa indah kata-kata dirangkai, tetapi sejauh mana tindakan nyata mencerminkan ucapan tersebut. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
mario teguh the golden way motivator