"Dengan perintah eksekutif ini, perang dalam olahraga puteri telah berakhir," kata Trump dalam sebuah upacara penandatanganan yang dihadiri sekitar 100 wanita dan anak perempuan. Banyak di antaranya mengenakan seragam dan kaus olahraga.
Trump menekankan jika pemerintahannya tidak akan tinggal diam dan membiarkan atlet pria mengalahkan atlet wanita.
Perintah eksekutif yang bertajuk "Keeping Men Out of Women's Sports" ditandatangani di Ruang Oval Gedung Putih, dan Trump menyebut langkah ini sebagai "bersejarah."
"Di bawah pemerintahan Trump, kami akan terus membela tradisi olahraga puteri dan tidak akan membiarkan pria mengalahkan, melukai, atau menipu wanita dan anak perempuan kami. Mulai sekarang, olahraga puteri hanya untuk perempuan," tambahnya dikutip dari Reuters.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa perintah ini dikeluarkan untuk melindungi keselamatan atlet, menjaga integritas persaingan, dan menegakkan janji Title IX — undang-undang AS yang melarang diskriminasi berdasarkan gender dalam pendidikan, termasuk olahraga.
Perintah ini kemungkinan akan menghadapi tantangan hukum, namun menetapkan "penegakan segera" di seluruh negara.
Selain itu, perintah ini juga mengancam untuk memotong dana federal bagi sekolah-sekolah yang mengizinkan atlet perempuan atau anak perempuan transgender untuk ikut serta dalam kompetisi olahraga putri.
Meskipun perintah ini hanya akan memengaruhi sejumlah kecil atlet, Presiden Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional, dalam kesaksian di hadapan panel Senat pada Desember, menyebutkan bahwa hanya ada kurang dari 10 atlet transgender di antara 520.000 atlet di 1.100 sekolah anggota.
NCAA (National Collegiate Athletic Association) yaitu organisasi nirlaba yang mengatur olahraga mahasiswa di perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, menyambut baik perintah eksekutif ini untuk memberikan standar nasional yang jelas.
Lantaran mengingat perbedaan undang-undang negara bagian dan keputusan pengadilan yang tidak konsisten.
Dalam pernyataan mereka, NCAA menyatakan bahwa mereka akan menyesuaikan kebijakan mereka berdasarkan perintah ini.
Saat ini, NCAA mewajibkan atlet wanita transgender untuk memenuhi batas testosteron tertentu berdasarkan olahraga yang mereka ikuti.
Kebijakan ini juga mendapat respons dari pemilih, yang memberikan tepuk tangan meriah saat Trump menyampaikan larangan tersebut dalam rapat umum kampanyenya.
Trump juga kerap menayangkan iklan televisi yang mengkritik pemberian izin bagi wanita dan anak perempuan transgender untuk berkompetisi dalam olahraga wanita.
Jajak pendapat menunjukkan mayoritas orang Amerika menentang partisipasi atlet transgender dalam olahraga yang sesuai dengan identitas gender mereka.
25 negara bagian yang dikuasai Partai Republik telah mengesahkan undang-undang yang melarang atlet perempuan transgender untuk berkompetisi dalam olahraga puteri.
Pengadilan federal umumnya membiarkan gadis transgender berkompetisi. Putusan Pengadilan Banding Sirkuit AS ke-9 memblokir larangan yang diterapkan oleh Idaho.
Sementara Sirkuit ke-9 dan Sirkuit ke-4 juga menghentikan larangan terhadap penggugat tertentu di Virginia Barat dan Arizona.
Di New Hampshire, seorang hakim pengadilan distrik federal telah memblokir negara bagian tersebut untuk menegakkan larangannya terhadap dua penggugat.
Namun, interpretasi pemerintahan Biden pada 2024 tentang Title IX yang melindungi orang transgender dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, diblokir oleh hakim federal di Kentucky pada Januari. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni