RADARTUBAN - Sekitar 157 ekor paus pembunuh palsu (False Killer Whale) ditemukan terdampar di pesisir barat laut Tasmania pada Rabu (19/2).
Dari jumlah tersebut, 90 ekor masih bertahan hidup meski dalam kondisi yang mengkhawatirkan akibat sengatan matahari dan terpaan angin kencang.
Berdasarkan laporan NOAA Fisheries pada Jumat (21/2), paus pembunuh palsu (Pseudorca crassidens) termasuk dalam famili lumba-lumba (Delphinidae).
Mamalia laut ini banyak ditemukan di wilayah perairan tropis dan subtropis di seluruh dunia, terutama di lautan dalam.
Nama "pembunuh palsu" disematkan karena perilakunya yang mirip dengan paus pembunuh (Orcinus orca), meski keduanya berasal dari genus yang berbeda.
Spesies ini dikenal memiliki ikatan sosial yang kuat, hidup dalam kelompok besar yang disebut pod.
Biasanya, mereka hidup berkelompok dalam jumlah kecil antara 10 hingga 50 ekor. Namun, dalam beberapa situasi, mereka dapat bergabung dalam superpod yang terdiri dari ratusan individu.
Hewan ini menunjukkan perilaku sosial yang kompleks, termasuk berburu bersama, berbagi makanan, hingga berinteraksi dengan lumba-lumba lain.
Penelitian juga menunjukkan bahwa paus pembunuh palsu mampu membangun hubungan sosial jangka panjang dengan individu lain dalam kelompoknya.
Paus pembunuh palsu memiliki tubuh ramping dengan warna dominan hitam atau abu-abu gelap. Bagian bawah tubuhnya lebih terang, terutama di sekitar sirip dada dan sisi kepala.
Mamalia laut ini memiliki kepala berbentuk bulat tanpa moncong yang menonjol, serta sirip punggung melengkung yang terletak di bagian tengah tubuh.
Sirip dada mereka cukup panjang dan meruncing, memungkinkan mereka bergerak dengan lincah di dalam air.
Dari segi ukuran, jantan dewasa dapat tumbuh hingga hampir enam meter dengan bobot sekitar 1.360 kilogram. Sementara itu, betina cenderung lebih kecil, dengan panjang rata-rata 4,8 meter.
Anak paus yang baru lahir berukuran sekitar 1,5 hingga 2 meter dan masih sangat bergantung pada induknya selama beberapa tahun pertama kehidupannya.
Spesies ini juga memiliki umur panjang, dengan beberapa individu diketahui bisa hidup lebih dari enam dekade di alam liar.
Sebagai predator utama di laut, paus pembunuh palsu memangsa berbagai jenis ikan dan cumi-cumi.
Mereka berburu secara kolektif dengan teknik yang menunjukkan koordinasi tinggi dalam mengepung serta menangkap mangsa.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa spesies ini juga memangsa hiu kecil serta bersaing dengan predator laut lainnya untuk memperoleh sumber makanan.
Mereka memanfaatkan ekolokasi untuk mendeteksi dan melacak mangsa di kedalaman laut yang minim cahaya.
Habitat utama paus pembunuh palsu berada di lautan dalam dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter.
Spesies ini tersebar di berbagai wilayah seperti Samudra Pasifik, Teluk Meksiko, sekitar Kepulauan Hawaii, hingga pesisir timur Amerika Serikat.
Di perairan Hawaii, terdapat tiga populasi utama paus pembunuh palsu, salah satunya terdiri dari sekitar 200 individu yang telah dipantau selama beberapa dekade terakhir.
Namun, populasi mereka mengalami penurunan signifikan sejak 1980-an hingga awal 2000-an, dengan rata-rata penurunan sekitar sembilan persen per tahun.
Faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan ini mencakup perburuan, perubahan habitat, serta pencemaran laut.
Paus pembunuh palsu menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia.
Salah satu risiko utama adalah penangkapan ikan komersial yang menyebabkan mereka sering terperangkap dalam jaring atau terkena dampak bycatch (tangkapan sampingan).
Selain itu, pencemaran laut yang disebabkan oleh limbah plastik serta polusi suara dari kapal mengganggu komunikasi mereka, yang bergantung pada ekolokasi.
Perubahan iklim juga berdampak pada pola migrasi dan distribusi mangsa mereka, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kelangsungan hidup spesies ini.
Karena jumlah populasinya terus menurun secara signifikan, paus pembunuh palsu kini masuk dalam daftar spesies terancam punah menurut Endangered Species Act di Amerika Serikat.
Selain itu, berdasarkan Marine Mammal Protection Act, spesies ini dikategorikan sebagai "depleted," yang berarti jumlahnya telah menyusut hingga tingkat yang mengkhawatirkan.
Untuk mencegah kepunahan, diperlukan upaya konservasi berkelanjutan, termasuk regulasi ketat dalam industri perikanan, pengurangan pencemaran laut, serta perlindungan habitat mereka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni