Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rela Mundur Demi Perdamaian Ukraina dan Gabung NATO, Zelensky: Saya Siap

Bihan Mokodompit • Selasa, 25 Februari 2025 | 00:49 WIB
Demi perdamaian ukraina dan gabung NATO
Demi perdamaian ukraina dan gabung NATO

RADARTUBAN - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan kesiapannya untuk melepaskan jabatannya demi terwujudnya perdamaian di negaranya.

Dalam konferensi pers yang berlangsung di Kyiv pada Minggu (23/2), dia bahkan menyatakan bersedia menukar posisinya sebagai kepala negara dengan keanggotaan Ukraina di NATO.

"Jika [itu menjamin] perdamaian untuk Ukraina, jika kalian benar-benar membutuhkan saya untuk mengundurkan diri, saya siap. Saya bisa menukarnya dengan NATO," ujar Zelensky, dikutip dari CNN.

Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian mengenai prospek Ukraina untuk menjadi anggota NATO.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, sebelumnya menegaskan bahwa integrasi Kyiv ke dalam aliansi tersebut masih menghadapi banyak hambatan.

Zelensky juga menekankan bahwa jika NATO tetap menolak keanggotaan negaranya, maka Ukraina harus memperkuat pasukan militernya hingga dua kali lipat demi menghadapi ancaman dari Rusia.

 

Di sisi lain, hubungan antara Zelensky dan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, semakin memanas. Trump sempat menuding Ukraina sebagai pemicu konflik dengan Rusia, meskipun kemudian meralat pernyataannya dan mengakui bahwa "Rusia yang menyerang."

Namun, dia tetap menyalahkan Zelensky serta mantan Presiden AS Joe Biden karena dianggap tidak mengambil langkah cepat untuk menghentikan perang.

Ketika Zelensky menanggapi pernyataan Trump dengan menyebut bahwa dia berada dalam "ruang disinformasi," Trump membalas dengan menyebut pemimpin Ukraina itu sebagai seorang diktator.

Hubungan yang memburuk antara Kyiv dan Washington terjadi di saat yang krusial.

Ketegangan semakin bertambah setelah pejabat Amerika Serikat dan Rusia bertemu di Arab Saudi untuk mendiskusikan kemungkinan penyelesaian konflik, tanpa melibatkan Ukraina dalam pembicaraan tersebut. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran di negara-negara Eropa.

 

Di tengah situasi politik yang tidak menentu, Ukraina juga menghadapi serangan udara paling masif dari Rusia sejak awal perang.

Pada Sabtu malam (22/2), Moskow melancarkan serangan drone dalam jumlah terbesar, dengan total 267 unit drone menyerang berbagai wilayah di Ukraina.

Akibat serangan ini, setidaknya satu orang dilaporkan tewas, sementara kerusakan signifikan terjadi di beberapa kota.

"Setiap hari, rakyat kami melawan teror udara," ujar Zelensky. Dia menambahkan bahwa serangan ini adalah yang terbesar sejak Rusia mulai menggunakan drone buatan Iran untuk menyerang wilayah Ukraina.

Kepala Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina, Kyrylo Budanov, menilai bahwa serangan ini merupakan bentuk teror yang dilakukan dengan tujuan mengintimidasi warga Ukraina.

 

Dalam situasi yang semakin genting, Zelensky kembali menegaskan bahwa solusi untuk menghentikan perang adalah dengan memperkuat dukungan dari sekutu internasional.

"Kami membutuhkan kekuatan seluruh Eropa, kekuatan Amerika, dan semua pihak yang menginginkan perdamaian yang abadi," tegasnya.

Konflik yang telah berlangsung selama tiga tahun ini terus mengalami eskalasi, sementara jalan menuju perdamaian masih penuh ketidakpastian. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#NATO #Gabung #volodymyr zelensky #jabatan #presiden ukraina #kyiv #perdamaian #Ukraina