RADARTUBAN - Ketegangan perdagangan global akibat kebijakan tarif Donald Trump memicu kepanikan di kalangan analis ekonomi.
Goldman Sachs dan JP Morgan serempak memperingatkan bahwa risiko resesi di Amerika Serikat (AS) kini makin mengkhawatirkan.
Goldman Sachs menaikkan peluang resesi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 45 persen dari proyeksi sebelumnya 35 persen.
Mereka menyebut tarif besar yang diberlakukan Trump sebagai faktor utama yang memperburuk suasana pasar keuangan.
Selain dampak perang dagang, Goldman menyoroti pengetatan kondisi keuangan dan ketidakpastian kebijakan telah menggerus rencana belanja modal perusahaan.
Kekuatan ekonomi AS saat ini jauh lebih rapuh dibandingkan beberapa tahun lalu.
Tak mau kalah waspada, JP Morgan memperkirakan risiko resesi mencapai 60 persen, angka tertinggi dalam perkiraan mereka.
Kepala Ekonom JP Morgan, Michael Feroli, menjelaskan tarif tersebut diperkirakan akan menyeret PDB AS ke dalam kontraksi dan menaikkan tingkat pengangguran menjadi 5,3 persen.
Baca Juga: Tarif Impor Baru Trump Berdampak Besar Bagi Jawa Timur, Begini Penjelasan Kamar Dagang Industri
Menurut Feroli, efek negatif dari tarif terhadap daya beli masyarakat AS akan mulai terasa dalam waktu dekat.
Dirinya menilai perlambatan pertumbuhan pendapatan akan memperburuk kondisi, berbeda dengan periode sebelumnya di mana penghasilan masih sempat meningkat.
JP Morgan juga menekankan risiko dari potensi tarif balasan dari negara-negara lain terhadap produk AS.
Tiongkok misalnya, sudah bersiap mengenakan pajak timbal balik sebesar 34 persen terhadap impor asal AS mulai pekan depan.
Beberapa negara lain diprediksi akan mengikuti langkah serupa, yang bisa memperbesar tekanan pada perdagangan global.
Hal ini memperparah ketidakpastian yang sudah membayangi perekonomian dunia.
Dengan situasi yang memburuk, Goldman Sachs dan JP Morgan mengingatkan bahwa ketidakpastian akibat perang dagang harus menjadi perhatian utama.
Mereka memperkirakan dampaknya bisa memicu pelambatan global yang lebih parah dalam waktu dekat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni