RADARTUBAN - Spanyol dan Portugal dilanda pemadaman listrik massal yang menyebabkan kekacauan besar di kedua negara.
Insiden ini mengakibatkan mati listrik total di banyak wilayah, termasuk ibu kota Madrid dan Lisbon, yang memicu kepanikan warga. Pada Senin (28/4).
Warga di kedua negara mengalami gangguan parah pada aktivitas sehari-hari.
Jaringan kereta api dan transportasi umum berhenti beroperasi, bandara terganggu, dan layanan telepon serta internet mati total.
Lampu lalu lintas padam, menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah dan antrean panjang kendaraan di jalanan.
Polisi berupaya mengatur lalu lintas di tengah ketiadaan lampu jalan dan keterbatasan komunikasi.
Antrean panjang juga terlihat di depan ATM karena banyak warga panik dan berusaha menarik uang tunai.
Beberapa warga bahkan terjebak di dalam lift dan garasi, memaksa pihak berwenang melakukan ratusan operasi penyelamatan untuk membebaskan mereka.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menyatakan bahwa pemadaman listrik ini belum pernah terjadi sebelumnya dan penyebabnya masih misteri.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunjukkan tanggung jawab serta kesopanan selama masa krisis ini.
Upaya pemulihan listrik terus dilakukan, dengan sekitar 35-50 persen kapasitas listrik berhasil dipulihkan pada malam hari, namun pemulihan total diperkirakan memakan waktu beberapa jam lagi.
Menurut operator jaringan listrik Portugal, gangguan ini disebabkan oleh fenomena atmosfer langka yang mengakibatkan getaran atmosferik dan kegagalan sinkronisasi sistem listrik antara Spanyol dan Portugal.
Sehingga memicu pemadaman berantai di jaringan listrik Eropa.
Operator jaringan listrik Spanyol dan Portugal masih menyelidiki penyebab pasti dan belum menyingkirkan kemungkinan apapun.
Pemadaman listrik massal ini menjadi salah satu insiden kelistrikan paling serius yang pernah melanda kawasan Iberia, memicu kepanikan dan gangguan besar dalam kehidupan warga Spanyol dan Portugal.
Pemerintah kedua negara terus berupaya mengembalikan kondisi normal secepat mungkin. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni