RADARTUBAN - Perseteruan antara Telegram dengana WhatsApp kembali memanas akhir-akhir ini.
Apalagi setelah CEO Telegram, Pavel Durov mengumumkan kompetisi pertamanya bagi konten kreator dengan imbalan hadiah sebesar $50 ribu atau setara Rp 821 juta.
Dalam kompetisi ini Pavel Durov meminta konten kreator untuk membuat sebuah video viral dengan durasi maksimal tiga menit.
Video tersebut harus menampilkan keunggulan apa saja yang dimiliki telegram dibandingkan pesaingnya yakni WhatsApp.
Bahkan dalam pengumumannya, CEO Telegram tersebut tak segan-segan mengatakan WhatsApp sebagai tiruan murahan dari Telegram.
"Kami baru saja meluncurkan kontes pertama kami untuk para kreator konten. Tujuannya sederhana: membuat video viral yang menunjukkan bagaimana Telegram selalu lebih unggul dari peniru murahannya - WhatsApp," tulis Pavel Durov.
Kontes yang diadakan Telegram ini digelar bukan tanpa alasan.
Durov menyebut hadirnya kontes ini sebagai respon dari kampanye kotor yang dilancarkan oleh WhatsApp untuk menghancurkan reputasi layanan perpesanan miliknya.
"Kami telah memergoki WhatsApp menjalankan kampanye yang menjelek-jelekkan Telegram, jadi sudah sepantasnya kami membalasnya," tegas Durov.
Kemudian untuk membantu peserta kontes, Pavel Durov membagikan 30 fitur yang diklaim telah hadir terlebih dahulu di Telegram sebelum diadopsi oleh WhatsApp.
Adapula persyaratan yang harus dipenuhi peserta adalah video dibuat dalam bahasa inggris, visual yang menarik, potensi viral, serta cocok dengan berbagai platform media sosial yang ada seperti Instagram Reels, TikTok, atau YouTube Shorts.
Selain itu, peserta diperbolehkan menggunakan AI sebagai tools tambahan dalam pembuatan video.
Kompetisi ini akan dilangsungkan hingga 26 Mei mendatang dengan pengumuman pemenang resmi direncanakan digelar pada bulan Juni.
Meskipun Pavel Durov merasa banyak fitur yang hadir di Telegram di adopsi oleh WhatsApp, tetapi dia yakin masih banyak fitur yang telah dinikmati oleh pengguna Telegram belum hadir di WhatsApp.
Lebih lanjut Durov merasa Telegram jauh melesat meninggalkan kompetitornya tersebut.
"Itulah sebabnya kami tidak khawatir WhatsApp akan berusaha mengejar kami - kami sudah terlalu jauh di depan," tambahnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama