RADARTUBAN- Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menandatangani kebijakan besar bertajuk One Big Beautiful Bill pada 4 Juli lalu.
Di tengah atmosfer perayaan Hari Kemerdekaan AS, kebijakan ini diluncurkan dengan gaya patriotik khas Trump, lengkap dengan flyover jet tempur dan pidato bertema nasionalisme yang lantang.
Kebijakan yang disebut sebagai paket fiskal dan belanja terbesar dalam masa kepemimpinannya ini menjadi manifestasi dari semangat proteksionisme dan visi "America First" yang terus digaungkan Trump sejak awal masa jabatan.
Kebijakan ini mencakup pemotongan pajak permanen yang diklaim akan meningkatkan take-home pay warga Amerika, termasuk potongan standar sebesar US$1.000 untuk individu dan US$2.000 bagi pasangan menikah.
Tidak hanya itu, insentif bagi pelaku usaha dan sektor manufaktur digulirkan demi mendorong pembangunan domestik serta mempertahankan lapangan kerja lokal.
Trump juga menyisipkan alokasi anggaran jumbo untuk sektor pertahanan dan antariksa.
Tercatat US$150 miliar digelontorkan untuk memperkuat militer, US$25 miliar dialokasikan untuk sistem pertahanan rudal Golden Dome, dan US$10 miliar disiapkan untuk misi Mars.
Pemerintah juga menetapkan US$325 juta untuk persiapan penutupan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sebagai bagian dari transformasi kebijakan luar angkasa AS.
Namun, di balik ambisi besar tersebut, kritik datang dari berbagai penjuru.
Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan kebijakan ini akan memperlebar defisit hingga US$3,3 triliun dalam kurun 10 tahun ke depan.
Selain itu, pemangkasan anggaran program sosial seperti Medicaid memicu kekhawatiran akan dampak langsung terhadap akses kesehatan jutaan warga.
Syarat baru yang diberlakukan, yakni kewajiban bekerja minimal 80 jam per bulan bagi penerima manfaat sehat di bawah 65 tahun, dinilai memberatkan banyak kalangan.
Kebijakan ini juga menuai kecaman dari para pegiat lingkungan. Insentif energi ramah lingkungan dicabut, dan industri fosil kembali mendapat dukungan.
Langkah tersebut dinilai berpotensi memperlambat transisi energi bersih dan meningkatkan ketergantungan karbon AS.
Bahkan tokoh ternama seperti Elon Musk turut angkat suara. Musk mengecam kebijakan tersebut karena menurunkan insentif kendaraan listrik, hingga memutuskan untuk mencabut dukungannya.
Meski demikian, Trump tetap berdiri tegak di tengah gelombang kritik, menyatakan bahwa One Big Beautiful Bill adalah tonggak penting untuk membangun Amerika yang lebih mandiri, kuat, dan kompetitif.
Ia menyebut kebijakan ini sebagai lompatan besar menuju masa depan yang didefinisikan oleh ketahanan ekonomi, keunggulan militer, dan kedaulatan nasional yang tak tergoyahkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni