RADARTUBAN - Eropa resmi bergerak membangun tandingan nyata untuk Starlink, layanan internet satelit milik Elon Musk.
Melalui Eutelsat Communications SA, Uni Eropa kini menggelontorkan dana besar-besaran untuk memperkuat kedaulatan digital di orbit.
Terbaru, pemerintah Inggris menyuntikkan € 163,3 juta atau sekitar Rp 3,1 triliun ke Eutelsat sebagai bagian dari konsorsium strategis yang sebelumnya dipimpin oleh Prancis.
Langkah ini menandai tekad Eropa dalam melepaskan ketergantungan dari dominasi layanan internet berbasis luar angkasa asal Amerika Serikat.
"Ketika musuh-musuh kita semakin sering menggunakan teknologi luar angkasa untuk menyakiti kita, konektivitas satelit yang tangguh menjadi penting bagi keamanan nasional benua kita," tegas Menteri Teknologi Inggris, Peter Kyle.
Dengan tambahan dari Inggris, pendanaan total yang diterima Eutelsat kini mencapai € 1,5 miliar.
Dana ini digunakan untuk membangun dan memperluas armada satelit LEO (Low Earth Orbit) melalui unit OneWeb — yang sebelumnya sempat diselamatkan oleh pemerintah Inggris tahun 2020 dari potensi kebangkrutan, sebelum akhirnya bergabung dengan Eutelsat.
Beberapa pihak penting yang mendanai proyek ini di antaranya, Pemerintah Prancis, Bharti Space (India), CMA CGM (grup logistik global), dan Fonds Stratégique de Participations (FSP).
Langkah besar ini juga bagian dari strategi ambisius Uni Eropa melalui proyek IRIS² (Infrastructure for Resilience, Interconnectivity and Security by Satellite), yang bertujuan menyediakan alternatif konektivitas luar angkasa berbasis satelit untuk wilayah Eropa dan negara mitra.
IRIS² ditargetkan menjadi solusi internet ultra-cepat, aman, dan independen dari pengaruh pihak luar seperti Amerika Serikat atau China.
Eutelsat menjadi salah satu kandidat utama dalam eksekusi proyek ini, dengan target pendanaan tambahan mencapai € 4 miliar hingga 2032.
Ketegangan geopolitik antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Februari lalu menjadi trigger utama.
Ketika potensi pemutusan layanan Starlink mengemuka dalam situasi perang, banyak pemimpin Eropa mulai menyadari bahayanya ketergantungan infrastruktur penting pada pihak luar.
"Saham Eutelsat melonjak tajam kala itu, karena pasar menilai pentingnya memiliki alternatif dalam kendali regional," ujar analis geopolitik dari TechRadar EU.
Dengan investasi terbarunya, Inggris mempertahankan kepemilikan 10,9% saham di Eutelsat, menjadikannya investor terbesar ketiga setelah pemerintah Prancis dan Bharti Global.
Posisi ini membuat Inggris tetap memiliki pengaruh strategis atas proyek OneWeb dan pengembangan teknologi satelit Eropa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni