RADARTUBAN — Pemerintah Brasil menyiapkan paket bantuan senilai 34,5 miliar Real Brasil (sekitar Rp 100 triliun) untuk menopang perusahaan yang terdampak kenaikan tarif impor Amerika Serikat hingga 50%.
Langkah ini difokuskan pada pemberian kredit bagi eksportir, keringanan pajak, dan pembelian produk oleh pemerintah agar perusahaan memiliki pasar alternatif.
Bantuan tersebut terdiri dari akses kredit sebesar 30 miliar Real melalui Dana Jaminan Ekspor (Fundo Garantidor de Exportação/FGE) yang dikelola Bank Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (BNDES), serta kontribusi 4,5 miliar Real untuk perusahaan kecil.
Pemerintah juga memperkirakan kehilangan potensi pajak sebesar 5 miliar Real akibat insentif ini.
Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan mengambil langkah balasan terhadap Washington.
"Kami tidak mengumumkan langkah-langkah timbal balik. Sejak awal, kami tidak ingin melakukan apa pun yang dapat membenarkan memburuknya hubungan kami," ujar Lula, dikutip dari Reuters, Kamis (14/8).
Kebijakan ini berlaku segera lewat perintah eksekutif Lula, namun harus mendapat persetujuan Kongres dalam empat bulan ke depan.
Produk-produk yang sebelumnya diekspor ke AS seperti kopi dan daging sapi akan dialihkan untuk program makanan sekolah negeri dan rumah sakit.
Kenaikan tarif impor AS diumumkan Presiden Donald Trump awal bulan ini, menaikkan bea masuk sejumlah barang Brasil dari 10% menjadi 50%, meskipun beberapa sektor seperti pesawat, jus jeruk, minyak, dan bubur kertas dibebaskan.
Trump menuduh Brasil mempolitisasi kasus hukum terhadap mantan Presiden Jair Bolsonaro, yang kini menghadapi persidangan terkait dugaan upaya membatalkan hasil pemilu 2022. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni