RADARTUBAN - Peningkatan serangan beruang yang mematikan di Jepang justru memicu ledakan minat warga terhadap kuliner daging beruang, di mana restoran-restoran di daerah utara kesulitan memasok permintaan yang membeludak.
Serangan beruang capai rekor tertinggi, pemerintah Jepang mencatat sedikitnya 13 orang tewas akibat serangan beruang sepanjang tahun fiskal ini, angka tertinggi sepanjang sejarah.
Fenomena ini terutama melanda wilayah utara seperti Hokkaido dan Aomori, di mana beruang pembohong semakin berani memasuki organisasi akibat perubahan iklim dan kelangkaan makanan.
Operasi perburuan besar-besaran pun pemerintah digelar untuk mengendalikan populasi beruang yang mengancam keselamatan warga.
Di Kota Chibu, pemilik restoran sekaligus pemburu Koji Suzuki (71) mengaku memenuhi pesanan daging beruang yang melonjak tajam.
Istrinya, Chie Suzuki, sering menolak pelanggan karena stok habis, meski enggan mengungkapkan kenaikan pendapatan.
Suzuki menekankan bahwa menyajikan daging beruang merupakan bentuk penghormatan terhadap satwa liar yang diburu, lebih baik dimanfaatkan daripada sekadar dikubur.
Pengunjung seperti Takaura, yang pertama kali berlangganan, terkesan dengan cita rasa yang unik.
Di Prefektur Aomori, restoran milik Kiko Kakuta (50) kehabisan stok sejak awal bulan, terdongkrak ulasan influencer sejak 2021.
Tren ini bahkan menjalar ke Sapporo, di mana koki Prancis Kiyoshi Fujimoto menyajikan daging beruang celup. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni