RADARTUBAN - Kejatuhan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akibat operasi militer Amerika Serikat menjadi pukulan telak bagi rezim otoriter di dunia.
Penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores,
mengikuti sidang di New York atas tuduhan narkoterorisme, memicu gelombang kekhawatiran di Teheran.
Pasukan khusus AS melancarkan serangan ke Caracas pada (3/1), puluhan termasuk tim keamanan Maduro dan menangkap pemimpin tersebut.
Parlemen Venezuela segera melantik Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara, yang berjanji bekerja sama dengan Washington meski mengutuk penangkapan itu sebagai "penculikan".
Situasi di Istana Miraflores tetap tegang dengan laporan tembakan dan kekerasan massal yang menuntut pembebasan Maduro.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan rezim lain melalui media sosialnya, menekan pengawasan ketat terhadap demonstrasi di Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut operasi AS ilegal, melihatnya sebagai preseden berbahaya bagi negara musuh Barat.
Analis menilai Venezuela dan Iran terkait oleh permusuhan bersama terhadap AS, meskipun perbedaan geografis dan budaya yang mencolok.
Kejadian ini melanggar norma hukum internasional menurut PBB, namun memperkuat citra Trump sebagai pemimpin tegas pasca-pemilu 2024.
Bagi Iran, di tengah protes domestik dan serangan nuklir AS-Israel 2025, kehancuran Maduro menjadi sirene darurat yang menggema hingga Timur Tengah.
Elit Venezuela diduga berkonspirasi diam-diam, mempercepat runtuhnya rezim Maduro. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama